BREAKING

Minggu, 21 Juli 2013

Supak Mencari Putri Raja

” Tok, tok, tok ... tok! Tok, tok, tok ... tok !” suara bertingkah. Bunyinya percis lagu tari manasai. Sebentar-sebentar terdengar gelak tertawa. Itulah Supak dan Gantang. Kedua anak itu kakak beradik. Gantang anak tertua. Adiknya bernama Supak. Umumnya orang kampung memanggil kedua anak tersebut dengan menyebut namanya sekaligus. Entah mengapa, tidak diketahui dengan jelas. Mungkin juga karena kakak beradik itu tidak pernah berpisah. Dimana ada Supak disitu ada Gantang. Supak adiknya, memiliki sifat peramah. Tutur bahasanya lemah lembut. Kata-kata kasar tidak pernah keluar dari mulutnya. Semua orang rata-rata senang kepadanya. 

Gantang mempunyai sifat yang berbeda. Ia termasuk anak pengasar, dan congkak. Mudah marah, walaupun ia senang bergurau. Itu pula sebabnya, jarang ia diajak bermain oleh kawan-kawannya. Terkecuali kalau ada Supak. Dan mungkin juga itulah sebabnya orang lebih senang mendahulukan nama Supak, baru nama Gantang. Pagi itu, mereka berdua disuruh ibunya pergi memancing ke sungai. Sambil menghanyut kehilir, gagang pengayuh dipukul kebibir perahu. Pukulan itulah yang membuat bunyi tadi, bertingkah gembira. Karena asyik sekali, akhirnya mereka samapai di dekat kota raja. 

Mendengar suara gaduh itu, pengawal melapor kepada raja. Perintah penangkapan segera dikeluarkan. Supak dan Gantang segera digiring untuk menghadap raja. Dengan tubuh gemetar, kedua anak itu terpaksa menurut. Supak sendiri sambil menangis, memohon ampun. Cuma Gantang yang terlihat agak tenang. Namun ia tidak berani berkata sepatahpun. ”Siapa namamu?” gertak raja dengan muka merah padam. ”Nama hamba Supak! Ini, kakak hamba, namanya Gantang, tuanku,” jawab Supak diantara isak tangisnya. ”Apakah kalian tidak tahu, bahwa putri Hintan, anakku diculik? Dan larangan sebelum putriku ditemukan tidak boleh berbuat gaduh?” ”Ampun tuanku! Sedikitpun hamba berdua tidak tahu, ”jawab Gantang. ”Kalian berdua telah melanggar peraturanku. Sekarang juga kalian dimasukkan kepenjara,” titah raja. 

Mendengar keputusan itu, tangis Supak semakin menjadi-jadi. Disela-sela tangisnya ia minta ampun dan mohon belas kasihan dari raja. Gantang sendiri tampak bingung dan diam saja. ”Ampun, tuanku. Kalau boleh, kami berdua jangan dihukum. Kasihan ibu hamba apabila mendengar berita ini. Beliau sudah tua. Dan 
beliau pulalah yang menyuruh hamba berdua pergi memancing. Dirumah, kami tidak memiliki makanan apa-apa lagi,” kata Supak menghiba. ”Jangan sedih, dik!
Yakin saja, tuanku tidak akan menghukum kita berdua,” ujar Gantang menghibur adiknya. Mendengar akan hal itu, timbul rasa iba dihati raja. ”Baik! Bila demikian, kalian berdua tidak saya masukkan dalam penjara. Tetapi ingat, saya perintahkan kalian berdua mencari tuan putri. Apabila dalam tujuh hari tidak ditemukan, kalian menerima hukuman pancung. Pengawal, bawa mereka keluar!” Baik tuanku! Tetapi bagaimana kami berdua pergi, makanan juga tidak ada?” usul Supak semakin berani. ”Baiklah! Nanti akan diberikan kepadamu!” seraya memerintah pengawal menyiapkan permintaan kedua anak itu. 

Ibunya terkejut, melihat anaknya datang dengan membawa makanan bermacam-macam. Dilihatnya pula Supak menangis. Semula dikiranya kedua anaknya berkelahi. ”Tetapi dari mana makanan sebanyak itu pikirnya dalam hati. Seumur hidup, baru sekali itu mereka melihat makanan sebanyak itu. Malah ada di antaranya yang makannyapun mereka tidak pernah. 
Berganti-ganti mereka berdua menceritakan ikhwalnya. Mendengar cerita tadi, ibunya ikut menangis sedih. Bagaimana nasib kedua anaknya bila tuan puteri tidak ditemukan. Mau dicari, entah di mana rimbanya. 

Hampir semalam suntuk, perempuan itu tidak dapat tidur. Disampingnya, Supak dan Gantang sudah tidur lelap. Mungkin terlalu lelah tadi. Berkali-kali ditatapnya wajah kedua anaknya berganti-ganti. Terbayang olehnya, wajah anaknya, bila dijatuhi hukuman nanti. Tidak terasa, air mata perempuan itu meleleh keluar. Ia bangkit, seraya mengambil beras kuning. Di tangannya, sebuah tempat perapian kecil, dari tempurung kelapa. Kemenyan dibakar sambil tangannya mengayun beras kuning di atas asap. Berkali-kali beras ditaburkan. Mulutnya komat-kamit, mengucapkan kata-kata yang kurang jelas didengar. 

Sesudah itu, baru ia tertidur. Pagi-pagi sekali, mereka bertiga telah bangun. Saat ibunya sibuk memasak di dapur, Supak dan Gantang sibuk pula menyiapkan barang bawaan mereka berdua. Selesai makan, pagi itu mereka berdua berangkat. Sebelumnya, ibu itu berpesan. Agar Supak dan Gantang mencarinya kearah matahari terbenam. Siapa tahu putri Hintan dibawa ke sana. Menurut mimpinya malam tadi, besar kemungkinan, tuan putri dibawa ke arah tersebut. Demikianlah Supak dan Gantang naik bukit turun bukit. Di mana hari mulai gelap, di situlah mereka berdua tidur. Makanan yang dibawanya, dimakannya sedikit-sedikit. 

Keduanya khawatir, kalau-kalau makanan habis, tuan putri belum juga ditemui. Pada hari kelima, kedua kakak beradik itu tiba di tepi danau. Danau tersebut cukup luas. Di tengahnya tampak sebuah pulau kecil. Selesai makan, mereka berdua melakukan pekerjaan masing-masing. Gantang berbaring di tanah, langsung tertidur. Supak sendiri, duduk-duduk di tepi danau itu. Cahaya matahari senja yang kilau kemilau, membuat danau tersebut sangat indah. Matahari yang menyerupai bola merah, tinggal sebelah lagi, tenggelam ke permukaan air. 

Saat Supak merenung-renung demikian, ia kaget setengah mati. Pusaran air sebesar rumah, dengan gelembung sebesar niru, tampak dihadapannya. Hampir saja ia berteriak. Tiba-tiba muncul seekor naga besar ”Cucuku, Supak!” kata naga itu. ”Jangan takut! Aku tahu engkau dengan kakakmu Gantang, ada di sini. Ibumu telah memberitahukannya kepadaku. Aku, naga sahabat almarhum kakekmu dulu.
Aku tahu apa yang kalian risaukan. Putri Hintan yang kamu cari ada di istana di tengah danau ini. Panggilkan! Aku mengantarkan kamu berdua ke sana.” Mendengar pembicaraan naga itu, Supak bangkit membangunkan kakaknya. Tanpa membuang waktu, keduanya naik ke atas punggung naga tersebut. Dan berpegang pada tanduknya, yang berwarna kuning keemasan. Anehnya, pakaian mereka sedikitpun tidak basah. Tidak lama kemudian, merekapun tiba di pantai tempat istana tadi. ”Naiklah cucuku! Sekarang, jemputlah putri Hintan! Dia sudah mengetahui kedatanganmu. Seekor lopan besar, sudah kakek suruh untuk 
menemuinya. Cepat sedikit, dan aku tetap menunggu di sini!” perintah naga. 

Supak dan Gantang segera naik. Semula, Supak menyuruh kakaknya untuk menemui puteri. Tetapi Gantang menolak, tidak berani. Akhirnya, Supak berangkat. Dari jauh, terlihat suasana istana ramai sekali. Jelas kelihatan, orang di dalamnya keluar masuk. Suaranya cukup gaduh. Dengan berjingkat-jingkat, Supak mendekat. Di sudut kanan istana, di tempat yang agak gelap, ia melihat seseorang. 

Kelihatannya orang itu bukan seorang perempuan. Supak ragu. Jangan-jangan orang tersebut, pengawal istana. Sambil mendekat Supak berpikir. Seandainya orang tersebut bukan tuan putri mau tidak mau ia harus mengadu kekuatan dulu. Baru ia masuk mencari tuan putri. 

Begitu Supak telah dekat benar, orang tersebut memberi isyarat. Tahulah ia sekarang. Orang itu pasti putri Hintan. Rupanya putri Hintan menyamar mejadi seorang laki-laki. Agar pengawal tidak menaruh curiga kepadanya. Secepat kilat Supak melompat mendekat. Tangan putri Hintan ditariknya dan merekapun berlari kearah semula. 

Dari keterangan tuan putri itulah, Supak tahu, bahwa di istana tadi raja sedang berpesta. Raja bersukaria, telah mendapatkan putri Hintan. Sebelum naik ke darat, naga berpesan agar hati-hati. Seba tidak mustahil, bahaya masih ada di depan mereka. Supak, Gantang dan putri Hintan naik ke darat. Setelah mengucapkan terimakasih, naga tersebut langsung menghilang. Malam itu juga mereka bertiga lari pulang. Untung saja, jalan yang dilalui sore tadi, masih dapat diikuti. Hampir tengah malam, mereka berhenti sebentar untuk istirahat. Rupanya karena terlalu lelah, mereka langsung tertidur lelap. Tiba-tiba, datang seekor naga yang jahat. 

Tanpa diketahui oleh Supak dan Gantang, tuan putri diculik lalu dibawa pergi. Waktu bangun pagi-pagi sekali, mereka berdua terkejut. Putri Hitan tidak kelihatan. Setelah diteliti tanpak dengan jelas, bekas sesuatu ditanah. Keduanya yakin, bahwa putri Hintan, telah diculik lagi. Hanya entah siapa pelakunya. Bergegas Supak dan Gantang berlari menelusuri bekas itu. Tidak sulit, sebab dedaunan, kayu-kayu kecil semua rebah seperti kena tebas saja. Lewat tengah hari, keduanya sampai ke ujung. Dan langsung turun ke dalam sebuah gua. Gua itu dalam dan gelap Supak dan Gantang sudah dapat memperkirakan bahwa perbuatan itu dilakukan oleh naga. 

Lama Supak dan Gantang mencari akal. Akhirnya mereka berdua menganyam rotan untuk turun. Setelah selesai, Supak menyuruh kakanya turun. Tetapi Gantang menolak. Terpaksa Supak, yang menyanggupinya. Sesampai didasar gua, keadaan gelap gulita. Baunya juga kurang sedap. Tidak jauh dari situ,tampak ada cahaya. Dengan berjingkat-jingkat Supak mendekat. Dari jauh terlihat olehnya seekor naga besar. Rupanya naga itu telah mengetahui kedatangan Supak. 
Terjadilah perkelahian sengit. Beberapa jam perkelahian itu, belum juga berakhir. Di saat tenagnya hampir habis, Supak menerahkan seluruh kekuatannya. Naga mengaung nyaring. Dan seketika itu juga roboh langsung mati. Betapa gembira hati putri Hintan melihat Supak memenangkan perkelahian tadi. Berkali-
kali ia mengucapkan terimakasih. Cincin dijari manisnya, langsung dilepas. Lalu dipasangnya pada jari tangan Supak, sebagai ucapan terimakasihnya. Tanpa membuang waktu, Supak menarik tangan putri Hintan lalu 
dimasukkannya ke dalam keranjang. Setelah memberi isyarat, tali ditarik Gantang ke atas. 

Berjam-jam Supak menunggu keranjang diulurkan kepadanya. Tetapi tidak juga kunjung tiba. Akhirnya, Supak pun mengerti. Pasti kakaknya telah lari membawa putri Hintan ke istana. Di sana ia akan bercerita bahwa dialah yang menyelamatkan putri Hintan. Dan ia sendiri, mungkin dikatakan telah mati. 

Dalam keadaan gelap itu Supak duduk termenung. Air matanya menetes keluar. Sampai hati kakaknya memperhatikannya demikian. Tiba-tiba terdengar ada suara memanggil: ”Supak, cucuku! Lihat di atas kepalamu, ada tali. Cepat naik! Jangan takut, aku menunjukkan jalan untuk pulang. Kakakmu, dan putri Hintan sudah ada di istana. Aku akan mengatur segalanya!” Supak kaget mendengar suara tadi. Ia tengadah ke atas. Dilihatnya tali beranyam, diulurkan dari mulut gua. Cepat-cepat ia naik. Ia menoleh kekiri dan kekanan. Tetapi tidak ada sesuatu yang dilihatnya. 

Setelah berjalan sekitar sepuluh langkah. Dilihatnya ada jalan lurus di hadapannya. Walaupun perutnya terasa lapar sekali, wajahnya tampak ceria. Sambil bersiul kecil, Supak menelusuri jalan itu. Betapa terkejut hatinya tahu-tahu ia sudah berada di belakang rumah mereka. ”Benarkah ini, rumah kami dengan ibu?” katanya dalam hati. 

Lama Supak berdiri tertegun, berkali-kali ia menggosok matanya. Kalau-kalau salah penglihatannya. Setelah ia yakin rumah tadi milik mereka, Supak berjalan perlahan sambil mendekat. Dicarinya ibunya tetapi tidak ada. ”Mungkinkah ibu sudah mati? Ataukah sudah dibawa kakak ikut ke istana?” tanyanya dalam hati. 

Sehari kemudian Supak ingin mencoba melihat keadaan di kota raja. Ia heran melihat penduduk berjejal di pinggir jalan. Dari keterangan salah seorang, mereka menunggu kereta raja lewat. Hari itu, pengantin putri Hintan dengan Gantang diarak keliling. Semua rakyat dihimbau untuk menyaksikannya. Supak merasa tertarik. Ia menyusup di atara kerumunan orang-orang itu. Tidak lama kemudian, terdengar bunyi genderang. 

Derap kaki pengawal membuat penonton tampak kagum. Dari jauh, Supak melihat kereta itu mendekat. Jelas kelihatan di dalamnya Gantang melambaikan tangan. Sebaliknya putri Hintan tidak bergerak sedikitpun. Wajahnya juga tampak muram saja. Rakyatnyapun heran. Tidak biasanya seorang pengantin demikian. Apalagi seorang putri raja. Kepala pasukan pengawal menjadi bingung. Mendadak perintah dari putri Hintan agar arak-arakan harus berhenti. Bergegas putri Hintan turun dari kereta. Langsung menyerbu ke tengah kerumunan penonton. Rupanya putri sempat melihat Supak di tengah orang banyak itu. Seluruh penonton tercengang-cengang.

Supak langsung dirangkul oleh putri Hintan. Tangan Supak ditarik oleh putri naik ke atas kereta. Semula Supak melawan. Mendengar teriakan putri Hintan, bahwa ialah yang menyelamatkannya. Supak terpaksa mengalah. Melihat peristiwa tadi, Gantang kebingungan. Tanpa berpikir panjang ia melompat dari kereta. Terus lari pontang panting. Sesampainya di istana, putri
Hintan menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Raja baru mengerti, ibu Supak sangat gembira sekali. Semula hatinya sangat sedih. Menurut anaknya Gantang, Supak telah mati berkelahi dengan naga. Akhirnya, raja membuat pesta kembali. Untuk perkawinan Supak dengan anaknya putri Hintan. Pesta perkawinan itu sangat meriah. Kedua mempelai itu sungguh sepadan. Wajah putri, tampak berseri-seri. Demikian juga Supak.
Beberapa tahun kemudian, raja menyerahkan pemerintahannya kepada Supak menantunya. Begitulah Supak memerintah dengan adil bijaksana. Kakaknya Gantang, diangkatnya menjadi Pimpinan istana. Demikian pula ibunya. Beliau merasa sangat bahagia, sampai kepada akhir hayatnya.

Nyai Balau

Dahulu kala di sebuah ‘lewu Tewah’ (Tewah adalah nama sebuah kota/kampung), sekarang telah menjadi Kecamatan Tewah, di daerah Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, ada seorang putri yang cantik jelita namanya “Nyai Balau”. Ia disbut Nyai Balau karena rambutnya panjang dan memikat hati. Ia sangat santun budi bahasa serta baik hati, hormat dan sayang terhadap orang tua, keluarga dan sesama. Laki-laki mana yang tidak mau padanya. Namun apa hendak di kata tidak sembarang orang yang berani melamar Nyai Balau, karena ia adalah anak orang terpandang di Lewu Tewah itu. Lagi pula ayahnya menginginkan Nyai Balau menikah dengan laki-laki terpandang juga.

Singkat cerita, ada seorang laki-laki berasal dari keluarga terpandang yang juga mendengar kabar tentang kecantikan Nyai Balau di lewu Tewah. Laki-laki itu bernama “Kanyapi”, ia adalah laki-laki tampan, gagah dan berakal budi. Ia datang ke Tewah dan melamar Nyai Balau untuk menjadi istrinya. Orang tua Nyai Balau menyetujui lamaran Kanyapi. Dan dalam waktu segera, dilangsungkanlah Pernikahan Kanyapi dan Nyai Balau dengan pesta yang sangat meriah.

Beberapa waktu kemudian Kanyapi dan Nyai Balau bersepakat untuk belajar hidup mandiri, sebagai suami-istri. Lalu diutarakanlah maksud mereka kepada orang tuanya. Dan orang tua Nyai Balau mengizinkan anak dan menantunya untuk hidup mandiri, dengan tinggal di rumah yang sudah disiapkan oleh orang tuanya.

Keluarga baru ini hidup bahagia, dan karena Kanyapi adalah seorang yang arif dan bijaksana, penuh perhatian dengan sesama di lewu Tewah, akhirnya Kanyapi diangkat menjadi “Temanggung” (pemimpin daerah), ia dan istrinya sangat dihormati dan dikagumi. Namun kebahagiaan mereka belum lengkap karena belum mempunyai anak. Temanggung Kanyapi dan Nyai Balau terus berdoa memohon kepada yang Kuasa agar diberikan seorang anak.

Beberapa tahun kemudian akhirnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Betapa bahagia mereka atas kehadiran seorang anak satu-satunya yang mereka harapkan bertahun-tahun. Mereka pun bersyukur dan berjanji untuk merawat anak itu dengan baik. Namun tidak dikekang, sebab Temanggung Kanyapi tetap mengizinkan anaknya bergaul dengan anak-anak lewu yang sebaya lainnya. Temanggung Kanyapi menginginkan anaknya berkembang dengan baik wajar serta menjadi anak yang baik hati dan mengasihi sesama.

Pada suatu hari, anak ini belum juga kembali ke rumah tempat dia biasa bermain dengan teman-temannya. Hingga hari sore bahkan malam hari putra mereka belum juga pulang. Temanggung dan Nyai Balau pun mulai gelisah, dan bertanya-tanya, mengapa putra mereka belum juga pulang. Akhirnya Temanggung dan Nyai Balau, memutuskan untuk pergi mencari putra mereka.
Mereka sudah mencari di sekeliling Lewu Tewah, putra simata wayang mereka belum juga ditemukan. Hingga malam pun larut. Temanggung dan Nyai Balau bersepakat untuk pulang dan beristirahat agar bisa mencari putra mereka besok harinya.

Pada saat pagi hari, Temanggung dan Nyai Balau memberitahukan kepada warga Lewu Tewah bahwa putra mereka hilang, dan mereka harus mencarinya. Maka bersama warga lewu, Temanggung dan Nyai Balau mereka mencari anak mereka ke segala penjuru, sambil memukul gong, siapa tahu putra mereka mendengar bunyi gong. Namun tetap saja anak mereka belum ditemukan.

Nyai Balau sangat sedih dan merasa bersalah, karena putranya belum ditemukan, namun ia tetap bertekad untuk terus mencari putra simata wayangnya.

Pada suatu hari, Nyai Balau secara diam-diam, tanpa sepengetahuan suaminya, ia berangkat dari rumah menuju sebuah hutan yang dianggap angker, karena jarang dilewati manusia. Di hutan itulah Nyai Balau ‘bertapa’ atau dalam bahasa Dayak Ngaju “Balampah” untuk meminta petunjuk dari Yang Mahakuasa, dimana keberadaan putranya. Selama tujuh hari, tujuh malam Nyai Balau bertapa, akhirnya pada hari yang ketujuh seorang nenek tua datang menjumpainya memberikan petunjuk mengenai putranya.

“Cucuku Nyai Balau, saya mengetahui tujuanmu datang ke sini, yaitu untuk mengetahui keberadaan putramu.” Sapa nenek tua ini. “Betul nek”, jawab Nyai Balau.

“Pulanglah cucuku, kamu tidak akan dapat menemukan putramu, ketahuilah ia sudah sudah tiada, ia sudah mati. Ia di “kayau” (dibunuh) oleh “Antang” dari Juking Sopang. Kata nenek tua ini kepada Nyai Balau.

Mendengar penjelasan nenek tua itu, Nyai Balau tersentak kaget, dan ia pun menangis dan meratap sedih, putra satu-satunya telah dibunuh orang.

Dengan dukacita yang mendalam itu, Nyai Balau berucap, dengan geramnya “saya akan membalas kematian putra satu-satu yang saya sayangi. Saya akan membalas dendam! Saya akan membuat perhitungan dengan “Antang”!!

“Baiklah, kalau memang itu sudah tekatmu, ujar nenek kepada Nyai Balau. “Saya akan memberikan kesaktian kepadamu agar kamu dapat membalas dendam terhadap Antang. “Selendang ini kuberikan kepadamu, untuk menghadipi musuh-musuhmu.”

Nyai Balau pun mengucapkan terima kasih kepada nenek yang sudah memberikan dia kesaktian dan sebuah selendang sakti.

Setelah itu Nyai Balau segera pulang kembali ke rumah. Di rumah suaminya Temanggung Kanyapi dan seluruh keluarga telah menantinya dengan cemas, karena pergi tampa pamit dan hilang berhari-hari tanpa kabar berita.

Nyai Balau menceritakan kepergiannya, untuk mencari petunjuk dari yang Kuasa, dan pertemuannya dengan nenek tua, serta kesaktian yang diberikan nenek itu. Walaupun Temanggung Kanyapi bersedih mendengar bahwa putranya telah dikayau Antang, namun ia merasa lega karena Nyai Balau telah kembali dengan selamat.

Kemdian Nyai Balau mengajak Tamanggung Kanyapi dan warga Lewu Tewah yang gagah berangkat ke Juking Sopang, untuk membalas dendam terhadap Antang. Setibanya di Juking Sopang, Nyai Balau memanggil pemuda yang bernama Antang, supaya keluar dan mengakui kesalahannya dan memohon ampun.

“Wahaii… Antang..! Apakah benar engkau membunuh anakku? Kalau memang benar, mengakulah dan memohon maaf terhadap saya dan suami saya Temanggung Kanyapi, sebelum saya habis kesabaran terhadap engkau.!” Kata Nyai Balau.

“Hei Nyai Balau beraninya kamu menuduh saya! Kata Antang. “Jangan macam-macam dengan saya, saya tidak membunuh anakmu. Bisa-bisa kamu yang saya bunuh nanti..!”

“Mengakulah kamu Antang! saya masih sabar. Kata Nyai Balau. Saya mengetahui perbuatanmu, kamu tidak bisa berbohong terhadap saya.!”

Memang sudah tabiat Antang, yang angkuh dan sombong, dia tidak mau mengakui kesalahannya dan perbuatan jahatnya yang membunuh putra Nyai Balau. Itu karena dia merasa sebagai seorang laki-laki yang gagah perkasa dan sakti. lalu kemudian Antang menyerang Nyai Balau dengan mandaunya. Perkelahian pun tidak dapat dihindari. Nyai Balau terpaksa membela diri, menghindar serangan dari Antang.

Antang tidak mengira bahwa yang ia hadapi bukanlah perempuan sembarangan. Dengan mudah Nyai Balau menangkis serangan Antang yang bertubi-tubi. Sampai akhirnya dia kelelahan, dan seketika Nyai Balau mengebaskan selendang saktinya ke arah Antang, dan Antang pun jatuh tersungkur lemah lunglai.

Nyai Balau perempuan yang berhati mulia dan murah hati, dia tidak membunuh Antang. Ia mengajak Antang dan keluarganya untuk berdamai secara adat Dayak Ngaju, yaitu dengan mengakui kesalahan dan membayar denda sesuai hukum adat Dayak Ngaju saat itu.

Antang adalah seorang yang keras kepala, dan tidak mau mengakui kekalahannya. Ia tetap bersikeras melawan Nyai Balau. Dengan menghimpun segenap kekuatan dan kesaktiannya Antang, kembali bangkit dan menyerang Nyai Balau. Kembali perkelahian tidak dapat dihindari. Sekarang bukan hanya Antang dan Nyai Balau yang adu kesaktian, demikian juga yang lain Temanggung Kanyapi dan warganya juga masuk dalam medan pertempuran yang sengit. Banyak jatuh korban dan pertumpahan darah. Dan akhirnya Nyai Balau mengibaskan selendang sakitnya, Antang pun terpental dan mati di tangan Nyai Balau.

Pertempuran itu berhenti dengan kekalahan di pihak Antang dan karena Antang yang dianggap sakti pun mati ditangan Nyai Balau, maka pihak Antang menyerah. Nyai Balau, Temanggung Kanyapi dan warganya pulang meninggalkan Juking Sopang, yang penuh dengan darah korban, termasuk Antang. Karena itu Juking Sopang sampai sekarang orang menyebutnya “Rangan Daha” (batu/koral yang berdarah).

Setelah pertempuran itu, nama Nyai Balau semakin tersohor di segala penjuru daerah. Dia ditakuti dan dihormati orang, lebih-lebih warga Lewu Tewah. Akhirnya warga Tewah mengangkat Nyai Balau menjadi pemimpin mereka dan diberi gelar “Pangkalima” (pahlawan yang sakti mandraguna). Dibawah kepemimpinan Nyai Balau lewu Tewah aman Sentosa, tidak ada orang yang berani mengganggu.

Namun di lain pihak, yaitu di lewu Juking Sopang keluarga Antang masih menyimpan dendam, karena kematian Antang. Diam-diam mereka menyusun strategi dan mengumpulkan orang-orang yang gagah perkasa dan sakti, untuk membalas dendam, menyerang balik lewu Tewah dan Nyai Balau beserta suaminya Temanggung Kanyapi…

Kemudian beberapa waktu setelah peristiwa itu, keluarga (alm) Antang, melai berkemas berangkat untuk menyerang lewu Tewah, dengan maksud membalas dendam atas kematian keluarga mereka Antang. Mereka tidak melewati transportasi air, akan tetapi melewat jalan lain secara diam-diam , yaitu melewati hutan belantara, turun lembah, naik bukit, jalan yang berliku-liku, agar penyerangan mereka tidak diketahui musuh.

Ketika hari sudah sore, tibalah pasukan dari Juking Sopang itu di sebuah bukit yang dinamakan “Bukit Ngalangkang”, bukit ini tepat di belakang lewu Tewah, dan tempat strategis untuk persiapan menyerang musuh. Dan mereka sengaja menunggu malam tiba, karena saat malam dan gelap, tentunya musuh yang akan di serang sedang tidur dan tidak siap.

Malam pun sudah tiba, maka mulailah pasukan Juking Sopang turun dari atas “Bukit Ngalangkang”, rencananya untuk memasuki lewu Tewah dan memulai penyerangang. Namun ketika sudah mendekat lewu Tewah, mereka kembali berputar-putar arah jalan dan akhirnya kembali lagi ke Bukit Ngalangkang. Beberapa kali mereka mencoba untuk memasuki lewu Tewah, dan tetap gagal, karena mereka tidak menemukan jalan yang benar dan tidak dapat melihat lewu Tewah. Mereka hanya berputar-putar di Bukit Ngalangkang. Keadaan itu membuat mereka kebingungan

“Lhoo….!! seru seseorang, “mengapa kita hanya berputar-putar di Bukit Ngalangkang ini saja?” mengapa kita tidak dapat menemukan jalan dan melihat lewu Tewah?” Kalau seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa masuk lewu Tewah, apalagi untuk membalas dendam, melihatnya saja kita tidak mampu.?” Kata seseorang lagi.

“Oh…. ini pasti karena kesaktian Nyai Balau, dia sudah membentengi atau memagari dengan “salatutup” (aji penutup kota) lewu Tewah dengan kesaktiannya, sehingga kita tidak dapat melihatnya.!”

“Baik, kalau demikian, mari kita menghimpun segenap kekuatan dan kesaktian kita untuk membuka “salatutup Nyai Balau te.!”

Dan dengan segenap kemampuan mereka dari Juking Sopang itu, berusaha membuka “salatutup”, tetap saja mereka tidak dapat membukanya. Sungguh kesaktian Nyai Balau lebih tinggi dari kesaktian mereka.

Dalam keadaan putus asa, karena gagal memasuki lewu Tewah dan membuka salatutup itu, mereka berkata : “ Kalau seperti ini, tidak mungkin kita berhasil membalas dendam terhadap Nyai Balau, membuka salatutupnya saja kita tidak mampu, apalagi menghadapinya langsung, dan tidak mungkin kita menang” Lebih baik kita pulang saja ke Juking Sopang (Rangan Daha).

Pasukan dari Juking Sopang akhirnya pulang kembali ke Juking Sopang, dengan perasan kecewa dan kesedihan hati karena gagal membalas dendam. Memang Nyai Balau benar-benar “Sakti Mandraguna”, dan ia memang mengetahui kedatangan pasukan dari Juking Sopang, karena itu ia memasang “salatutup lewu” (pagar kota), karena ia ingin menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi.

Baru sesudah itu, Nyai balau menceritakan kepada kepada semua warga lewu Tewah perihal kedatangan dan rencana jahat pasukan Juking Sopang, karena itu ia memasang ‘salatutup lewu”.

Sesudah peristiwa itu, lewu Tewah, aman tenteram, tidak ada seorang pun yang berani mengganggu dn membuat onar. Semua orang menghormati dan mengagumi akan Kesaktian dan Kearifan Nyai Balau dan memajukan lewu Tewah dan menjaganya.

Hingga akhir hayatnya, Nyai Balau selalu dikenang, dan namanya terukir indah di hati warga Tewah bahkan seluruh masyarakat Dayak yang mengenalnya. Bahkan sampai sekarang nama Nyai Balau selalu disebut-sebut “Secantik orangnya, dan seindah rambutnya yang panjang. Demikian Nyai Balau menjadi simbol Kecantikkan Putri Dayak, berambut panjang yang Sakti Mandraguna.

Nama besar Nyai Balau yang tersohor kesegala penjuru negeri, turun-temurun bahkan sampai masa penjajahan Belanda ke Indonesia, membuat serdadu Belanda tidak berani mendekati Lewu Tewah.
Sumber

Manusia Hantu (Hantuen)

Dahulu kala, di Baras Semayang hiduplah sebuah keluarga yang memiliki seorang anak gadis bernama Tapih. Suatu hari, Saat Tapih mandi di sungai, tiba-tiba topi tanggul dareh (topi yang tepinya lebar dan khusus dipergunakan pada upacara khusus) miliknya dihempaskan angin kencang dan jatuh di sungai. Topi itu kemudian terbawa arus sungai yang cukup deras.

Karena topi itu dianggap bukan sembarang topi, maka Tapih dan orang tuanya menyusuri setiap desa yang terletak di sepanjang sungai Rungan untuk mencarinya.

Ditanyainya setiap orang desa yang ditemui, namun mereka tak ada yang mengetahuinya. Akhirnya, Tapih dan orang tuanya tiba di desa Sepang Simin dan menemukan kembali topi itu. Ternyata topi itu dipungut oleh seorang pemuda bernama Antang Taung. Orang tua Tapih menghadiahi pemuda itu emas, namun Antang Taung menolaknya. Sebagai gantinya, ia meminta Tapih untuk dijadikan istrinya. Permintaan itu di setujui oleh orang tua Tapih.

Tak lama kemudian, Antang dan Tapih dinikahkan di desa Baras Semanyang. Menurut adat setempat, sepasang mempelai baru harus berdiam di rumah kedua orang tua masing-masing secara berfiliran. Mereka merasa sangat berat untuk memenuhi adat ini karena diantara kedua desa mereka terdapat hutan yang cukup lebat.

Untuk pemecahan masalah itu, diputuskan membuat jalan yang dapat menghubungken kedua desa tanpa melalui hutan tersebut. Pembuatan jalan di mulai dari Baras Semayang. Pekerjaan mereka mulanya mengalami gangguan makhluk gaib. Setiap kali pekerja pulang, gubuk tempat mereka beristirahat telah dimasuki orang dan bekal makanan mereka dicuri.

Hingga suatu hari, mereka menemukan akal. Mereka berbuat seolah-olah meninggalkan gubuk untuk bekerja, tetepi sebenarnya mereka bersembunyi di balik semak yang tak jauh dari tempat itu. Dari tempat persembuyian itu , mereka dapat melihat seekor binatang angkes (sejenis landak) sedang menaiki tangga gubuk. Setelah masuk kedalam, binatang itu menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan secara ajaib berubah menjadi seorang pemuda yang tampan.

Melihat hal itu para pekerja segera meringkus dan berhasil menangkapnya. Ia minta ampun agar dilepaskan, jika ia dilepaskan ia berjanji akan membantu para pekerja membuat jalan. Akhirnya permintaan itu diluluskan. Anehnya, pemuda jelmaan binatang angkes tadi berhasil menyelesaikan pembuatan jalan yang cukup panjang hanya dalam waktu tiga hari. Mengetahui akn hal itu Tapih dan suaminya sangat kagum kepada pemuda jadi-jadian itu dan mereka mengambilnya sebagai anak angkat. Kini, dengan adanya jalan itu, suami istri itu dapat mondar mandir kedesa masing-masing dengan mudah tanpa harus melewati hutan yang cukup lebat itu.

Beberapa waktu kemudian Tapih pun mengandung. Saat itu mereka berada di desa Sepang Simin. Calon ibu muda itu mengidam ingin makan ikan, maka Antang Taung segera pergi kesungai untuk menangkap ikan. Saat itu ia mendapat hasil cukup lumayan. namun,ketika ia akan mendarat ke desa dengan biduknya,tiba-tiba turun hujan besar. Dengan tergesa –gesa ia lari pulang,dan tanpa ia sengaja telah meninggalkan seekor ikan tomang di dalam perahunya.

Keesokan harinya,ketika ia kembali ke perahu untuk mengambilnya ,ternyata ikan itu telah lenyap. Sebagai gantinya , ditempat itu terbaring seorang bayi perempuan. Anak itu kemudian di bawa pulang oleh Antang Taung dan anak itu kemudian diangkat menjadi anak angkat mereka. Anehnya, bayi perempuan temuan mereka itu tumbuh dengan cepatnya. Dalam waktu beberapa bulan saja ia sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik. Gadis jelmaan ikan tomang itu kemudian jatuh cinta pada pemuda jelmaan binatang angkes. Dan keduanya kemudian dikawinkan. Mereka menjadi suami istri yang bahagia.

Tak lama kemudian mereka melahirkan seorang anak laki-laki. Akan tetapi, anak itu mati tak lama setelah lahir. Betapa sedih kedua manusia jelmaan binatang itu. sKesedihan lain pun muncul. Beberapa hari kemudian saudara laki-laki angkat mereka, yakni putera Tapih dan Antang Taung juga meninggal. Menurut adat, orang yang meninggal harus dilakukan dua kali upacara kematian, sebelum arwahnya dapat menuju ke Lewu Tatau (Sorga orang Dayak Ngaju). Pada upacara pertama jenazah dikebumikan dan pada upacara kedua, jenazah yang sudah tinggal tulang belulang itu dibakar. Hal ini dimaksudkan untuk membebaskan roh seseorang dari badan kasarnya untuk selama-lamanya. Sifat upacara ini mewah sekali dan disebut dengan nama Tiwah.

Ketika mendengar bahwa saudara angkatnya hendak di tiwahkan, suami istri jelmaan binatang itu ingin juga agar anaknya yang telah meninggal dibakar dalam upacara tersebut. Niat itu sangat di tentang oleh Tapih dan Antang Taung, tapi mereka tak menghiraukan dan bersikukuh dengan niat itu.

Dan terjadi sesuatu yang menghebohkan ketika kuburan anak suami istri jadi-jadian itu di gali. Ternyata yang tinggal bukan tulang belulang manusia melainkan tulang belulang binatang dan ikan. Kejadian itu membuat malu besar pada kedua suami istri asal binatang itu, sehingga akhirnya mereka menyinkir dari desa Sepang Simin dan membangun sebuah desa di hutan belantara. Didesa itu mereka kemudian berkembang biak menjadi suatu keluarga besar. Keturunannya kemudian dikenal dengan sebutan Hantuen.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, orang hantuen yang asli sudah tidak ada. Yang ada hanyalah keturunannya yang sudah kawin dengan manusia biasa. Orang yang memiliki darah hantuen dipercaya akan memiliki kemampuan untuk mengubah diri menjadi hantu jadi-jadian (hantuen). Pada siang hari mereka akan menjadi manusia biasa, tetapi pada malam hari mereka akan mengubah dirinya menjadi hantu tanpa tubuh yang gemar menghisap darah.
Inilah cerita yang oleh penduduk di aliran sungai Kahayan dianggap legenda yang benar-benar pernah terjadi. Untuk memperkuat kebenaran legenda ini, mereka dapat menunjukkan jalan yang dibuat oleh pemuda jelmaan angkes tersebut. Jalan itu bernama Langkuas, yang terletak diantara Baras samayang dan Sepang Simin.

Misteri Panglima Burung


Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat Agung, Sakti, Ksatria, dan Berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, dan sosok tersebut selalu bersinggungan dengan alam gaib. Kemudian sosok yang sangat di dewakan tersebut oleh orang dayak dianggap sebagai Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Ada juga versi yang menceritakan bahwa Panglima Burung adalah gelar yang diberikan kepada seorang Panglima di tanah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kehidupan sehari-hari panglima ini seperti orang biasa (cuma tidak menikah) dan sosok panglimanya akan hadir jika terjadi kekacauan di tanah Dayak. Begitu juga dengan Panglima Naga. Panglima Naga adalah warga Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Panglima Naga sudah berpulang, namun beliau memiliki keponakan dan keluarga. Salah satu Keponakan Panglima Naga adalah anggota Dewan Kabupaten Sekadau 2004-2009. Jadi Panglima Burung, Panglima Naga adalah sosok yang benar-benar ada. Begitu versi yang di ceritakan.

Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak.
Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.

Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak?. Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.

Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka.
 
Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang.
Riuh rendah kehidupan para pendatang tak membuat mereka marah dan tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkungannya adalah orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu?Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis.
 
Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.

Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual adat yang di Kalimantan Barat dinamakan Mangkuk Merah akan dilakukan untuk mengumpulkan para prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, Mengayau (memenggal kepala) dan membawa kepala yang di anggap musuhnya tersebut kemana-mana dan baru bisa berhenti apabila kepala adat yang dianggap perwakilan Panglima Burung menyadarkan mereka.



Inilah yang terjadi di kota Sampit Kalimantan Tengah beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.
 
Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah agama manapun dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya.
Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi atau pilihan terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, begitu yang mereka yakini dalam sudut pandang mereka.
Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Dan inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut.
Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.

Amun ikam kada maulah sual awan ulun, ulun gen kada handak jua bahual lawan pian malah ulun maangkat dingsanak awan pian, begitu yang di ucapkan orang kalimantan khususnya orang Banjar untuk menggambarkan sikap dari orang-orang Dayak.

Oke bro sampai disini dulu cerita tentang Panglima Burung terima kasih atas kunjungannya di blog yang sederhana ini, sampai jumpa. Peace from Kalimantan.
Sumber

Ngayau, Tradisi Mengerikan dari Suku Dayak

Siapa yang tidak kenal suku dayak, penduduk asli pulau kalimantan ini di kenal dunia sebagai suku yang tidak takut mati. Mereka sanagat mempercayai kekuatan alam dan adat istiadat mereka. Kayau atau Ngayau adalah suatu tradisi mereka yang sangat kejam dan mengerikan. Dimana dalam tradisi ini mereka akan mempertahankan wilayah kekuasaan mereka walau harus membunuh dan memenggal kepala musuhnya.

Setelah itu, kepala yang di penggal akan di bawa ke kampung mereka. Namun, tidak semua orang dari mereka mampu melakukan hal itu. Beberapa orang yang memiliki keberanian tinggi yang dalam melakukan Kayau. Itulah sebabnya orang yang melakukan kayau akan di populerkan di kalangan wanita dayak pedalaman. Mereka mengganggap orang yang melakukan kayau punya keberanian tinggi dan akan mempertaruhkan nyawa untuk melindungninya.



OLDUE Selain itu, mereka mempercayai jika kepala musuhnya di penggal, roh si musuh tidak akan gentayangan dan mengganggu mereka untuk membalas dendam. Acara adat pun harus dilakukan untuk menenangkan roh si musuh tersebut dengan memberikan sesaji dalam upacara adat yang bernama tiwah. Namun, tidak semua musuh boleh di penggal kepalanya, anak-anak dan kaum wanita tidak boleh di penggal. Biasanya mereka hanya dipenjara.
 
Karena itulah, tidak heran pada tahun 2002 terjadi tragedi sampit, dimana kepala warga madura banyak yang di penggal dan bertebaran di mana mana.

Sumpit Dayak Lebih Ditakuti Daripada Peluru

PADA zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru.
 Penyebab yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun. Sebelum berangkat ke medan laga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek."Makanya, tak heran penjajah Belanda bilang, menghadapi prajurit Dayak itu seperti melawan hantu," tutur Pembina Komunitas Tarantang Petak Belanga, Chendana Putra, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (2/6/2011).

Tanpa tahu keberadaan lawannya, tiba-tiba saja satu per satu serdadu Belanda terkapar, membuat sisa rekannya yang masih hidup lari terbirit-birit. Kalaupun sempat membalas dengan tembakan, dampak timah panas ternyata jauh tak seimbang dengan dahsyatnya anak sumpit beracun.
Tak sampai lima menit setelah tertancap anak sumpit pada bagian tubuh mana pun, para serdadu Belanda yang awalnya kejang-kajang akan tewas. Bahkan, bisa jadi dalam hitungan detik mereka sudah tak bernyawa. Sementara, jika prajurit Dayak tertembak dan bukan pada bagian yang penting, peluru tinggal dikeluarkan. Setelah dirawat beberapa minggu, mereka pun siap berperang kembali.



Penguasaan medan yang dimiliki prajurit Dayak sebagai warga setempat tentu amat mendukung pergerakan mereka di hutan rimba.

"Karena itu, pengaruh penjajahan Belanda di Kalimantan umumnya umumnya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar tapi tak menyentuh hingga pedalaman," Chendana.

Tak hanya di medan pertempuran, sumpit tak kalah ampuhnya ketika digunakan untuk berburu. Hewan-hewan besar akan ambruk dalam waktu singkat. Rusa, biawak, atau babi hutan tak akan bisa lari jauh. "Apalagi, tupai, ayam hutan, atau monyet, lebih cepat lagi," katanya.

Bagian tubuh yang terkena anak sumpit hanya perlu dibuang sedikit karena rasanya pahit. Uniknya, hewan tersebut aman jika dimakan. "Mereka yang mengonsumsi daging buruan tak akan sakit atau keracunan," kata Chendana.
Baik hewan maupun manusia, setelah tertancap anak sumpit hanya bisa berlari sambil terkencing-kencing.
"Bukan sekadar istilah, dampak itu memang nyata secara harfiah. Orang atau binatang yang kena anak sumpit, biasanya kejang-kejang sambil mengeluarkan kotoran atau air seni sebelum tewas," tambah Chendana.
 
Copyright © 2013 DAYAK NEWS
Design by FBTemplates | BTT