BREAKING
Tampilkan postingan dengan label LIGA CHAMPION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LIGA CHAMPION. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Agustus 2013

30 PASUKAN GARUDA VS 3000 GERILYAWAN KONGO

Kiprah Pasukan Garuda menuai prestasi. 167 Prajurit TNI di Haiti yang tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXII-B/MINUSTAH (Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haiti) menerima penghargaan Medali PBB.

Pasukan perdamaian dari Indonesia selalu bisa diterima dengan baik di negara penugasan. Sejak Kontingen Garuda I bertugas di Mesir tahun 1957, sejak itulah pasukan baret biru di bawah PBB ini mengharumkan nama bangsa.

Ada cerita menarik soal Pasukan Garuda. 30 Pasukan Garuda berhasil membekuk 3.000 gerilyawan di Kongo berbekal akal bulus dan kecerdikan.

Ceritanya, Desember 1962 di Kongo sedang bergolak. Kontingen Garuda III (Konga III) di bawah pimpinan Kolonel Kemal Idris berangkat sebagai pasukan perdamaian di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo).

Saat itu kelompok milisi di bawah pimpinan Moises Tsommbe ingin lepas dari pemerintah Republik Demokratik Kongo pimpinan Presiden Kasavubu. Rakyat sipil pun segera menjadi korban pertikaian antar milisi dan tentara pemerintah.

Pasukan Garuda III segera dikenal karena keluwesannya bergaul. Banyak Singkong di Kongo, pasukan TNI pun mengajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Selama ini rakyat Kongo hanya mengolah singkong menjadi tepung yang rasanya tidak enak.

Suatu hari, terjadi serangan yang dilakukan 2.000 gerilyawan Kongo ke markas Pasukan Garuda. Saat itu markas hanya dipertahankan 300 tentara. Setelah baku tembak berjam-jam, gerilyawan dapat dipukul mundur. Untungnya tak ada korban di pihak Indonesia.

Serangan balasan pun segera dirancang untuk menangkap para pemberontak. Letjen Kemal Idris menceritakan hal ini dalam buku biografi, Kemal Idris, bertarung dalam revolusi terbitas Sinar Harapan.

"Kami melakukan penyerangan di malam hari dengan kapal yang digelapkan di atas danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah Albertville. Pasukan kami yang berkekuatan 30 orang menyamar sebagai hantu," beber Kemal Idris.

Kemal tahu 3.000 pemberontak itu sangat percaya takhayul. Mereka takut pada hantu spritesses yang digambarkan berwarna putih dan melayang-layang di waktu malam. Maka 30 anggota pasukan garuda itu berpakaian jubah putih dan segera menyerang.

"Melihat sosok-sosok putih bergerak-gerak, semangat mereka hilang sama sekali dan segera menyerah," kata Kemal.

Dalam operasi kilat itu, ribuan gerilyawan Kongo ditangkap. Senjata-senjata mereka yang ternyata lumayan canggih disita. Dalam peristiwa itu hanya seorang prajurit TNI yang cidera. Salah seorang gerilyawan yang panik saat digerebek, melemparkan ayam yang tengah dibakarnya pada tentara kita.

Sejak itu, anggota Garuda III di kenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang," kata Kemal bangga.
Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethopia mengaku bangga atas keberhasilan pasukan Indonesia menangkap 3.000 lainnya tanpa jatuh korban. Namun dia pun meminta ke depan cara-cara unik seperti itu tidak dilakukan. Karena risiko terlalu besar dan sangat membahayakan.

MISTERI KUTUKAN JEMBATAN SELAT SUNDA

Megaproyek spektakuler Jembatan Selat Sunda (JSS) akan gagal total. Secara spiritual nama Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan pengusaha Tommy Winata sangat tidak cocok sebagai pemrakarsa JSS.

Analisis supranatural itu disampaikan praktisi metafisika Ki Gendeng Pamungkas "Secara spiritual Selat Sunda sangat lekat dengan Tatar Pajajaran. Sehingga, nama Hatta dan Tommy sangat tidak cocok sebagai pemrakarsa JSS. Apalagi niat Hatta Rajasa untuk pencitraan nyapres di 2014," tegas Ki Gendeng.

Menurut Ki Gendeng, dari sisi metafisika, Jembatan Selat Sunda bukan merupakan solusi untuk membuat perekonomian angkutan darat berjalan baik. Justru seharusnya, pemerintah melakukan perbaikan total Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakauheni secara profesional, terencana dan tanpa korupsi.

"Ke depan, jika penyeberangan Merak-Bakauheni dibenahi secara nasionalis ,maka penghubung laut Selat Sunda akan lebih hebat dari pelabuhan penghubung manapun di dunia," tutur Ki Gendeng.

Ki Gendeng juga mengungkapkan, bahwa proyek JSS telah memakan korban, yakni dicopotnya Agus Martowardojo dari kursi Menteri Keuangan. "Tommy Winata jadi pemenang, dan bahkan mendapatkan bonus pengelolaan kawasan di Banten dan Lampung. SBY tega mengorbankan Agus Marto, yang dicopot dan dilempar ke Bank Indonesia. Agus Marto maunya JSS dibangun sendiri dan tidak perlu diserahkan ke asing lewat Tommy Winata," ungkap Ki Gendeng.

"Kemenangan Tommy Winata-SBY itu telah dirayakan di Bali dengan mengundang Cristiano Ronaldo. Dalam perayaan itu, secara simbolis, CR7 menanam mangrove di Bali," pungkas Ki Gendeng.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, menegaskan bahwa Jembatan Selat Sunda (JSS) layak dibangun. Bahkan Hatta menyatakan, meskipun Anak Gunung Krakatau meletus dan menghasilkan tsunami, JSS tetap aman.

"Tim sekretariat telah melakukan serangkaian studi kelayakan untuk menilai layak atau tidaknya pelaksanaan pembangunan jembatan itu. Ternyata, hasil studi menyatakan secara teknis Jembatan Selat Sunda layak dibangun," kata Hatta.

Hatta mengatakan, JSS akan dibangun untuk menjadi ikon Indonesia, di mana tenaga ahli dan insinyur dari Indonesia akan berperan dominan membangunnya. JSS dibangun dalam satu kawasan terpadu yang meliputi dua provinsi, yaitu Banten dan Lampung.

Kamis, 15 Agustus 2013

MISTERI MUSTIKA MERAH DELIMA

Selama ini telinga kita sering kali mendengar kisah-kisah tentang kehebatan Mustika Mirah Delima, yang katanya harganya bisa mencapai milyaran rupiah. Tentu saja bila batu mustika Mirah Delima itu asli adanya. Cara mengetahui keasliannya, bila batu dimasukkan ke dalam air bisa tembus cahayanya hingga beberapa gelas. Semakin banyak gelas yang terkena bias warna merahnya, maka diyakini semakin ampuh tuah sang batu, dan tentunya harganya pun semakin terdongkrak.

Mendengar hal seperti ini Kanjeng Djoko tersenyum. “Kalau seperti itu sih mudah, Mas Gun. Mustika Mirah Delima itu bisa diperagakan jauh lebih hanya sekedar begituan,” katanya. Ia pun mengajak Misteri memperagakan keaslian Mirah Delima.

Waktu peragaan mustika Mirah Delima pun akhirnya tiba. Misteri datang bersama beberapa teman, namun oleh Khanjeng Djoko, hanya Misteri sendiri yang diperbolehkan masuk ke ruang khususnya, yang disebut Gedong Pusoko, untuk melihat langsung peristiwa ini.

Dari kalung simbol keraton yang selalu dikenakan Khanjeng Djoko, bandulnya yang berlogo keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebesar telur bebek itu dibuka.

“Nah, kebetulan Mirah Delima ini sedang pulang. Biasanya akan kembali ke Gunung Lawu,” jelas Khanjeng Djoko sambil memperlihatkan Mirah Delima yang hanya sebesar biji kedelai, tanpa diikat apapun.

Pertama, ia mengambil gelas berisi air putih. Batu Mirah Delima itu kemudian dimasukkan ke dalam gelas tersebut. Lalu Khanjeng Djoko meditasi untuk berkonsantrasi dialog dengan khodam batu tersebut. Tak lama kemudian terjadi keganjilan, batu itu tiba-tiba seperti zat warna yang terkena air memendar, dan tahu-tahu warna merah naik ke atas dan melingkar, terlihat seperti bendera merah putih.

Selanjutnya, Khanjeng Djoko memerintahkan agar khodam mustika Mirah Delima itu untuk merubah warna, yakni bening, merah, bening dan merah. Ya, air dalam gelas berubah sesuai dengan perintah Khanjeng Djoko.

Misteri terbelalak. Sebuah benda mati seakan-akan mampu hidup menggerakkan atsmanya, benda ini akan mensenyawai pemiliknya dan diperintahkan berbentuk apapun akan terwujud.

Bukan hanya itu, peragaan dilanjutkan. Misteri diminta untuk memegang mustika Mirah Delima Khanjeng Djoko, lalu sang empunya benda langka ini berkata, “Bila tersentuh tangan manusia, hanya 5 menit saja paling lama, bentuk materi mustika ini akan berubah menjadi de-materi.”

Dan itu benar. Setelah berada di atas telapak tangan Misteri, 5 menit kemudian mustika Mirah Delima itu tiba-tiba berubah menjadi semacam asap, dan seluruh ruangan Gedong Pusoko Khanjeng Djoko berubah jadi merah semua. Lalu warna merah itu lama-lama hilang dan berbentuk batu Mirah Delima lagi yang hanya sebesar biji kedelai.

Kepada Misteri, Khanjeng Djoko mengatakan kalau mustika Mirah Delima ini sejatinya adalah putra Prabu Brawijaya VII, atau Brawijaya Pamungkas, yang lahir dari garwa ampilan atau selir saat dalam pelarian dari Majapahit menuju ke Gunung Lawu. Sayangnya, bayi dalam kandungan ini lahir sebelum waktunya atau orang Jawa bilang ‘keguguran’. Makanya oleh Prabu Brawijaya Pamungkas yang waskita ing batin diberi nama Raden Segugur atau sering disebut saja Raden Gugur. Dia juga yang disebut sebagai Khanjeng Sunan Lawu Bagus, yang juga memiliki nama Khanjeng Kyai Paser Dewo Geni. Demikian, khodam di mustika Mirah Delima ini juga bernama Khanjeng Kyai Paser Dewo Geni.

Meski Cuma sebesar biji kedelai, seorang paranormal dari negeri Jiran pernah menawar dengan mas kawin Rp. 5 milyar.

“Mustika seperti ini tidak bisa diperdagangkan. Percuma, akan mukso,” jelas Khanjeng Djoko.

Bukan Mustika Mirah Delima saja yang diperagakan olehnya. Ada lagi mustika Wesi Kuning. Besarnya hanya sejarum bundel. “Ini juga datang dan pergi. Hakikatnya Wesi Kuning ini adalah isterinya Mustika Mirah Delima, ia adalah Ratu Makhluk Halus yang berkedaton di Goa Ketonggo yang bergelar Kyai Ratu Saloko Domas.

“Khasiatnya untuk kebal senjata apapun!” tegas Khanjeng Djoko.

Satu lagi, berupa Lulang keBo Landoh. Kalau Lulang keBo Landoh ini tak pernah meninggalkan kalung yang dikenakan Khanjeng Djoko.

“Kalau Lulang keBo Landoh ini ada kelemahannya bila ditusuk oleh pisau milik penjual getuk (singkong) maka akan tembus dan ngebardaya perbawanya,” jelas Khanjeng Djoko.

Konon, menurut kisahnya setelah orang Landoh mendapat warisan pusaka Lulang Kebo Landoh milik tokoh desa tersebut yang mati, lalu kulitnya dijadikan jimat, mereka menjadi sombong dan takabur. Maka ada orang suci menyamar sebagai penjual getuk. Orang tua ini dihina dan diajak taruhan, bila pisaunya dapat merobek kulit orang Landoh.

Yang membedakan batu Mirah Delima dengan mustika Merah Delima salah satunya menurut kitab kuno Selo Pepelikan adalah dikatakan bahwa batu Mirah Delima yang tulen (asli) berwarna merah seperti buah delima. Dan bisa jadi bila mustika batu tersebut sudah pernah jadi milik orang lain yang Linuwih, seperti Raja Gung Binathara, orang-orang suci semacam Wali, Aulia, dll.

Cara praktis untuk menguji keaslian batu mustika ini, bagi orang awam cukup dimasukkan dalam gelas akan memancarkan warna semburat kemerahan. Khasiat secara umum, adalah: ora tedas tapak palune padde (kebal), yang memiliki akan ditinggikan derajatnya.

Sayangnya, mustika Mirah Delima ini bisa hilang dengan sendirinya kalau yang merawat gegabah, kotor serta memiliki niat yang buruk, suka zinah dan sebagainya.

Mustika Mirah Delima kabarnya juga bisa digunakan untuk mengobati laki-laki yang cepat keluar maninya bila beradegan ranjang atau lemah syahwat. Caranya, batu Mirah Delima dimasukkan ke dalam gelas berisi air putih dan dicampur dengan bunga Camelia, lalu direndam selama 5 menit. Airnya kemudian diminum.

Sedang bila yang digunakan hanya batu Mirah Delima (bukan mustika) yang diembani emas perendamnya sekitar 1 jam. Dengan cara ini air mani akan lama keluarnya. Apalagi minumnya teratur setiap jam 5 pagi, akan sangat baik hasilnya.

Menurut legenda di Sri Lanka, batu Mirah Delima atau Ruby tergolong pada corundum minerals (korund), kerasnya 9, B.J 3.99-4.0. Kata Ruby mulanya berasal dari kata latin ‘ruber’ yang berarti merah. Jika disinarkan dengan cahaya 1 watt ultraviolet akan bercahaya pijar. Jika dipanaskan sampai 1000 celcius, karena terbentuknya batu ini memilih tempat tepat lurus garis lini, yang disebut Aquator atau khatulistiwa. Dan batu Mirah Delima paling banyak ditemukan di tanah Fir’aun (Mesir) dan sekitarnya di Benua Hitam, Afrika.

Mirah Delima senyatanya memang tersusun mengandung zatnya Sang Bagaskara (matahari) yang sangat banyak, sebab terjadinya selalu disinari oleh Shang Hyang Sewangkara, sebab memang tempatnya di Equator. Tergolong selo pepelikan yang keras, hanya di bawah intan.

Kembali legenda Sri Lanka, beberapa kilometer dari bukit karang yang setelah bercabang-cabang menjadi sungai-sungai kecil. Sungai itu kemudian membasahi ladang-ladang di wilayah Amaole, sehingga daerah ini menjadi subur makmur. Suatu hari Bathara Syiwa menyeberangi sungai kecil yang berair jernih ini, sayang tangannya tergores batu karang hingga berdarah. Titik –titik darah ini jatuh di atas pasir-pasir di tepi kali dan menjadi batu Mirah Delima.

Di bumi Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, mustika Mirah Delima banyak ditemukan di bekas reruntuhan keraton, umpamanya bekas keraton Majapahit. Keraton pelarian Brawijaya Gunung Lawu (Argo Dumilah) seperti milik Khanjeng Djoko di atas. Khasiatnya bisa digunakan untuk menyembuhkan sakit parah, muntah darah, penyakit yang berasal dari Black Magic, dll. Sebagai pepeling (peringatan/warning leluhur) jangan memakai batu yang retak-retak, buruk efeknya.

POVEGLIA KOTA ARWAH DI ITALIA


Poveglia adalah pulau kecil yang terletak antara Venezia dan Lido di Lagoon Venezia, Italia. Kabarnya, pulau ini tidak berpenghuni dan tertutup untuk umum karena sejarah yang sangat kelam.

Tahun 1576, Italia terkena wabah pes atau yang disebut dengan 'black plague'. Karena mematikan dan belum ada obatnya, ribuan mayat mulai menumpuk dan membuat lingkungan semakin memburuk.

Orang-orang mulai panik, sehingga mereka membawa semua mayat-mayat ke Pulau Poveglia dan membakar mereka. Mereka juga menggali lubang-lubang di Pulau untuk mayat-mayat tersebut.

Lebih mengerikan lagi, ketika hukum mulai dijalankan. yaitu tiap orang tidak peduli bayi, anak-anak, atau orang dewasa yang memiliki tanda-tanda pes akan diasingkan ke pulau ini untuk mati dalam penderitaan. diperkirakan lebih dari 160.000 orang tewas mengenaskan di poveglia.

Hantu yang terlihat di Pulau PovegliaPada tahun 1922, sebuah rumah sakit jiwa dibangun di Pulau itu. Mitos mengatakan bahwa operator rumah sakit adalah seorang dokter gila yang jahat yang menggunakan pasien-pasiennya untuk eksperimen.

Konon, dokter tersebut melakukan eksperimen seperti lobotomy - menggunakan alat seperti palu dan bor tangan manual. Selain karena tekanan dari dokter, pasien-pasien tersebut juga mendapat gangguan yang katanya berasal dari arwah gentayangan korban wabah pes. Tetapi tak ada yang percaya karena mereka sudah dianggap gila.

Setelah beberapa lama, dokter tersebut merasakan kehadiran arwah penasaran poveglia. Akhirnya dokter mulai melihat roh dirinya sendiri dan melompat (atau dilempar?) Dari menara lonceng kematiannya. Rumor menyebutkan mayat dokter itu ditanam (dibata) di menara tersebut.

Hingga saat ini, poveglia masih menjadi tempat yang sangat menyeramkan. Dan telah masuk dalam acara tv 'scariest place on earth'.

Ada rumor yang mengatakan nelayan venesia tidak mau mencari ikan di daerah sini karena sering menemukan sisa-sisa mayat manusia. Selain itu, katanya sering terdengar suara lonceng dari menara padahal sudah tidak ada lonceng di sana.

MISTERI TENTANG KUCING

Tak seorang pun tahu kapan kucing ini mulai bercokol di bumi. Tapi, peneliti dunia masa silam percaya, nenek moyang kucing adalah Miacis. Binatang liar yang sosoknya mirip musang yang hidup pada masa Eocene, kira-kira 50.000.000 tahun silam. Selain itu Kucing pernah dilindungi oleh Undang-Undang. Pada tahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya “situs” berisikan 300.000 mumi kucing dimana semuanya masih utuh menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial.

Catatan paling awal tentang usaha domestikasi kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, baru-baru ini dalam sebuah makam di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini.

Sebuah topeng perunggu digunakan dalam pemakaman mumi kucing di Mesir kuno.

Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.

Di abad pertengahan, kucing sering dianggap berasosiasi dengan penyihir dan sering dibunuh dengan dibakar atau dilempar dari tempat tinggi. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa takhyul seperti inilah yang menyebabkan wabah Black Death menyebar dengan cepat. Black Death diperkirakan merupakan sebuah wabah penyakit pes di Eropa pada abad ke-14. Cepatnya penyebaran wabah ini menyebabkan banyak orang waktu itu percaya bahwa setanlah yang menyebabkan penyakit tersebut. Pernyataan Paus yang menyebutkan bahwa kucing, yang berkeliaran dengan bebas, telah bersekutu dengan setan. Karena pernyataan ini, banyak kucing dibunuh di Eropa pada saat itu. Penurunan jumlah populasi kucing menyebabkan meningkatnya jumlah tikus, hewan pembawa penyakit pes yang sesungguhnya.

Saat ini, orang masih percaya bahwa kucing hitam adalah pembawa sial sementara ada yang percaya bahwa kucing hitam justru membawa keberuntungan. Kucing juga masih diasosiasikan dengan sihir. Kucing hitam sering diasosiasikan dengan Halloween. Penganut wicca dan neopaganisme yang lain mempercayai bahwa kucing sebenarnya baik, mampu berhubungan dengan dunia lain, dan dapat merasakan adanya roh jahat.

Di Asia, kucing termasuk ke dalam salah satu zodiak Vietnam. Namun kucing tidak termasuk ke dalam zodiak Tionghoa. Menurut legenda, ketika Raja Langit mengadakan pesta untuk hewan yang akan dipilih menjadi zodiak, ia mengutus tikus untuk mengundang hewan-hewan yang telah dipilihnya. Bagian cerita ini dikisahkan dalam berbagai versi, tikus lupa untuk mengundang kucing, tikus menipu kucing mengenai hari pesta, dan berbagai variasi lainnya. Pada akhirnya kucing tidak hadir dalam pesta itu, tidak terpilih menjadi hewan zodiak, sehingga memiliki dendam kesumat pada tikus.

Bagi orang Jepang, kucing adalah hewan teramat istimewa. Bahkan, konon orang Jepang lebih memilih memelihara kucing dibanding memelihara anjing. Para kaisar yang pernah menduduki tahta pemerintahan, konon selalu memelihara kucing. Ini dikarenakan adanya mitos turun-temurun yang menyatakan bahwa kucing adalah hewan kesayangan Dewa Amaterasu, dewa matahari. Sebagai hewan kesayangan Dewa, kucing sering turun ke dunia manusia untuk mengamati kehidupan para manusia dan melaporkan segala yang dilihatnya itu kepada para dewa. Jika ia menemukan orang yang berhati mulia namun sangat miskin, ia akan melaporkannya kepada Dewa Kemakmuran agar orang baik tersebut diberi rahmat rejeki. Dari mitos ini pulalah lahir boneka “ManekiNeko”, yaitu boneka atau patung kucing yang duduk dan melambaikan satu kaki depannya. Kita sering melihat patung seperti ini di toko-toko, bukan? Patung ini adalah simbol rejeki atau kemakmuran, karena orang Jepang percaya bahwa kucing itu mendatangkan rejeki. Mitos ini tidak hanya dipercaya oleh orang Jepang, tapi juga oleh orang-orang China yang dikenal sebagai pedagang ulung.

Itulah sebabnya, bagi orang Jepang, kucing dianggap hewan yang keramat. Mereka percaya, jika seseorang membunuh kucing dengan sengaja, maka kesialan akan mengikuti sepanjang sisa hidupnya akibat kutukan dewa. “Sekalipun kamu tidak menyukai kucing, jangan sengaja membunuhnya atau resiko kutukan akan mengikuti sisa hidupmu sampai kau mati,” begitulah paham yang dianut oleh orang-orang Jepang. Sebetulnya, tidak terlalu berbeda dengan mitos kepercayaan di Indonesia, ya? Orang Indonesia juga meyakini bahwa membunuh kucing dengan sengaja (misalnya sengaja menabrak kucing dengan mobil), maka akan membawa kesialan sepanjang umur bagi si pelakunya. Bagi umat muslim, kucing dipercaya sebagai hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan bagi umat non muslim, kucing diyakini mempunyai kekuatan menangkal roh-roh jahat atau makhluk halus. Konon, hantu memang tidak menyukai rumah yang penghuninya memelihara kucing.

Saking mengagungkan kucing, konon orang Jepang tidak akan memperlakukan jenazah kucing mereka dengan sembarangan. Sampai sekarang tradisi ini masih tetap berlaku bagi orang Jepang. Jika kucing peliharaan mereka mati, orang Jepang akan menguburkan jenazah sang kucing di pemakaman khusus hewan seperti layaknya pemakaman manusia. Mereka memasang dupa di kuburan kucingnya dan mendoakan supaya arwah sang kucing diterima di Kerajaan Dewa. Diyakini, sebagai imbal-baliknya, arwah sang kucing akan melaporkan perlakuan baik yang diterimanya selama berada di bawah asuhan majikannya kepada Dewa dan Dewa akan memberkati manusia yang menjadi majikannya tersebut. Selain itu, banyak peribahasa dan ungkapan-ungkapan bahasa Jepang yang menggunakan kata “kucing” (neko) di dalamnya. Contohnya, ungkapan “nekojita” (artinya “lidah kucing”) untuk menjuluki orang yang tidak bisa makan makanan panas karena lidahnya sensitif. Ungkapan-ungkapan lainnya yaitu “karite kita neko”(artinya “kucing pinjaman”), “neko kawaigari suru” (artinya “sangat memanjakan kucing”), “neko ni koban” (artinya “memberi uang emas kepada kucing”) dan banyak lagi.

Percaya ga kalo kucing punya 9 nyawa? sebenernya sih, yang bilang percaya, ya hahaha, anda kena tipu. hehe Sebenernya kucing itu ya sama kayak kita, punya 1 nyawa. Tapi kenapa sih kok dibilang kucing punya 9 nyawa? Kenapa ga manusia? Karena kemampuan kucing untuk bertahan hidup itu luar biasa kalo dibandingin manusia. Alias, kucing itu susah mati.

Tau kan, kalo kucing dijatohin dari tempat yang tinggi, kucing masih bisa jatuh dan tetap baik-baik saja. Yang ga tau, kasian deh… Hal ini terjadi karena kucing (dan beberapa hewan lain) punya sistem keseimbangan dan koordinasi yang luar biasa. Sistem inilah yang membuat kucing, ketika jatuh, akan menyadari dalam posisi apa dia jatuh. Kalo dia jatuh dalam posisi terbalik, dia akan segera memutar tubuh sehingga kakinya berada di sebelah bawah, dan bersiap untuk mendarat. Mendaratnya juga ga asal regangin kaki. Kalo manusia jatuh dari tempat tinggi dengan kaki ke bawah, biasanya pasti patah kan. Kalo kucing pinter, mereka setelah memutar kaki ke bawah, segera meregangkan kakinya sehingga angin menahan jatuh tubuhnya. Dan saat bersentuhan dengan tanah, kakinya langsung ditekuk supaya mengecilkan efek jatuhnya.

Rekor tertinggi pernah mencatat bahwa kucing pernah jatuh dari ketinggian lantai 46 tingkat (walaupun sambil jatuh dia sempat mantul2 ke kanopi2) dan tetap bisa bangun dan berjalan dengan agak terpincang. luar biasa kan. Kalo manusia dah mati tuh. Tapi penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kucing jatuh, makin banyak tulangnya yang patah. Tapi cuma sampe batas lantai 5 tingkat doang. Lebih dari itu, jumlah tulang kucing yang patah menurun drastis, apalagi kalo semakin tinggi.

Nah rahasianya adalah, kucing (dan beberapa hewan lainnya) punya apa yang disebut dengan terminal velocity, yaitu kecepatan jatuh maksimum yaitu 60 mil perjam. Saat kucing jatuh, kan sesuai hukum fisika, kecepatan jatuh si kucing makin bertambah. Ternyata, saat kecepatan jatuh kucing mencapai terminal velocity, di saat itulah kucing merasa paling rileks dan nyaman. Maka dia mulai meregangkan kakinya seperti bajing loncat untuk mengurangi efek jatuhnya. Nah itulah sebabnya makin tinggi dia jatuh, makin ada dia kesempatan untuk merasa rileks. Itu juga sebabnya kalo dijatuhin dari tempat yang rendah, dia ga sempat ngerasa rileks. Makanya jatuhnya lebih berasa.

Senin, 22 Juli 2013

Dayak Art And Ritual

The word Dayak stands for “dweller of the hinterland”. It generally refers to the indigenous (non-Malay, non-Chinese) peoples of Indonesian Borneo who live along the banks of the Barito, Kahayan, Katingan, Kapuas and Mentaya rivers as well as in the surrounding areas.

Culturally on the Southern Borneo, the Dayak belief is a Kaharingan, or animist, people divided into several groups who have oral literature only. Their daily life and the accomplishment of their tasks, which unfold essentially within isolated communities, favor the development of aspects that are peculiar to the various regions and villages. At its best, traditional Dayak art equals the finest of Melanesia & Africa, generally considered the source of the world’s best traditional art. Powerful, expressive Dayak woodcarvings and other art forms-cloth, beadwork , - have universal appeal. 

Unfortunately, fine quality Dayak art is, for all practical purpose, a thing of the past. We have to travel to the most remote areas to find old carvings. The sad fact is that the best place to see authentic Borneo art is in the museums of Europe which its unfortunately keeping in the basement store. 

One can still come across some examples of Dayak art in the inland villages, and seeing these pieces in their proper setting is an experience no museum environment can hope to duplicate. 

MOTIF & STYLES
Hinduism influences reached Borneo about 2000 years ago from Java. The most important, still visible contribution of Hindu art are the dragon and tiger motives ( there are no tigers on Borneo, and also no dragons ). The dragon, symbolizing the lower world, remains an essential art form, even the Islamized Malay cultures of Borneo. 

Because of the many movements of Dayak people, and their big cultural flexibility, it's hard to say whether certain motives belong to a population or not. Expert, analyzing BORNEO art, trace the source of Dayak motifs to the Asian mainland, particularly China & Vietnam. Art styles from the Dongson civilization -at its height, 300 BC to 100 BC- spread through much of the archipelago.

The Dongson inspired motifs in Borneo include the spiral and the repetition of various curved lines. Instead of human or animals standing alone, these figures appeared in a tangle of varied and repeating geometric forms. In the Apokayan, Kenyah designs are decorated with the group's distinctive baroque style of carving. Most of the places where traditional art can still be found off the beaten path, and require time and effort to reach. The late Chou period in China- 400 BC to 200 BC- left more noticeable marks on Dayak art, though few traces of Chou influence exist elsewhere in the archipelago. Chou art styles are said to be visible in the Dayak's fantastical animals, and in wild compositions that blend variety of asymmetrical designs into harmonious whole. 

Late Chou influences can most clearly be seen on Borneo's masks & shields, which, according to one art historian, display decorative work that is of a form unique in Indonesia.In the artistic expressions of the Bahau, Kenyah and Kayan is often a asoq to be seen, a stylized 'dog-dragon'. This animal, which is said to have protecting powers, shows relations with a very ancient mythological. The animal-like behavior is still are honored and loved. Among many Dayak populations a combination of fantastic-animal habits are common in ancestral rituals.

This is especially true for what the Kenyah and Kayan concerned, which show strong resemblance in a cultural way. Since the spirits and other supernatural creatures in the pantheon of many Dayak populations are the same on the whole, art forms were easily taken from or influenced by a population to another.

In the art of the Dayak, frightening animals were used to scare bad spirits and enemies. The shields of the Kenyah, Kayan and Bahau were often decorated with hypnotizing eyes and mouth full with dangerous teeth. These images can also be found on the masks and graves which are made by the handicraftsmen of these populations. In Dayak art, frightening animals generally function to scare away both evil spirits and human enemies. The designs are often decorated with large, hypnotic eyes and moths studded with fangs, these designs appear on masks, shields, graves, crafted by the craftsmen. Many motifs, especially the human figure, were reserved for aristocrats, from Dayak Kenyah, Kayan and Bahau.

DAYAK RELIGION & ART
Although there are notable differences in the various Dayak group’s religious beliefs, the comment environment of jungle and rivers, along with rice-based agriculture, seems to have led to similar Dayak “faiths”. Spirits crowd the Dayak supernatural world. These powerful beings –some beneficial, some harmful- are manipulated through rituals, offerings and various artistic expressions. 

Most of Dayak art was, and to a large extent remains, intimately associated with religion and social hierarchy. Funerary structures are the most obvious extant examples. These include raised coffins and carved poles to which the animal formerly , slaves are tied before being sacrificed in the ritual.People of wealth and status, the aristocrats, received the most elaborate funerals, and special motifs were reserved for their coffins. 

The aristocrats were more powerful than other men on earth, and similarly their spirits were more powerful in the afterworld. But among certain groups, all of the deceased required a , an additional ritual treatment of the remains to send the soul on its way . Elaborate funerary structures dot villages along the middle and upper parts of same rivers in Kalteng and the Melawi basin to the north. 

Agricultural implements were adorned with carvings, either to ward off evil or to attract the supernatural protection such as: textiles, baskets, mats, blowguns, hats, stools, wooden dishes and various containers. At key points in the cycle of rice growing – planting & harvest- a dance using grotesque Hudoq mask is performed to keep maleficent spirits from taking over the “soul” of the rice. 

An alternate interpretation is that the masked dancers are representations of benevolent ancestors, and the dancers attract their prototype who then keeps the evil spirit from destroying the rice.Tiwah (“secondary burial”)

Manajah Antang - Kekuatan Supranatural Dayak

Indonesia adallah negara yang paling bnyak suku dan ras, baik Madura, Jawa, Sunda, Bugis, dan Dayak, bahkan masih bnyak lagi yang lainnya, oleh karena itulah Indonesia adalah negara yang pling banyak di minati oleh orang-orang luar Indonesia. Pada dasarnya Indonesia memiliki laut yang luas yang di hiasi oleh tumbuh karang terbaik dan ikan yang terbanyak di dunia dan memiliki pulai yang begitu banyak nan indah, lag mempunyai hutan yang sangat luas, gunung, sungai, tanah yang sangat subur suhu yang yang sedang di bandingkan dengan negara lain.Indonesia terkenak juga dengan suku-suku etnisnya, salah satunya adalah Dayak, suku Dayak adalah suku yang hiidupnya di pedalaman Kalimantan, meraka berasing dari suku-suku yang lain, suku dayak sangatlah peka dengan kekuatan spiritualnya dan juga sangat terbukti dengan kesaktiannya oleh karena itulah wajar orang Barat menamanakan suku Dayak dengan Suku Kanibal.

Suku Dayak sangatlah peka dengan sebuah mitos, kaerann mitos;lah yang menjadi sumber rujukan meraka selama ini, mulai dari nenek moyang meraka hingga sekarag, mitos adalah sebuah cerita yang menceritakan cerita massa silam yang berkaitan dengan keyakinana dan kekeuatan spiritual. Dalam mitos ada terdapat sebuah keyakinan tentang roh-roh yang berada di alam sebelah yang bisa di mintai peertolongan dengan ppersyaratan-persayaratan yang sangat mudah di dapat bagi suku mereka, yaitu dalam sebuah uapara yaangmereka namakan dengan Manjah Antang, apa sebenarrya arti dari manajah dan antang, dan dari mana asal-usul manjah antang dan bagaimana persyaratan-persyaratan yang harus di lakukan ketika hendak memulai ritual tersebut dan bagaimana tentang pantangannya? Berikut adalah sedikit ulasan mengenai permasalahan tersebut.

Manajah
Jika di telusuri dari pokok dasar katanya maka, Manajah di ambil dari asal kata bahasa Sangiang. Yang artinya di termajemahkan dalam bahasa sehari-hari dayak Ngaju adalah Mantebau, mengahau, mangatah, manambawa, sedangkan Najah adalah sebuah kata dasar dari Manajah yang berartikan tebau, ngabau, Nagtah. Jika di tinjjauu dari sebauh kamus Dayak Indonesia maka kata Manajah mempunyai arti dengan Memangil, sedangkan Tajah panggil, seruan, pekikan,perbedaan arti di atas bukanlah hal yangcukug di siknifikan tetapi pada dasarnya mempunyai maksut yang saama ketika sang Tawur.

Antang
Antang adalah bahsa dari suku dayaak nagju yang dapat di artikkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Burung yang beradaa di udara, dalam dunia orang Dayak burung itu sangat banyak (Antang itu banyak) seperti Antang Bijang, Antang Bahadang, Antang Pipit, Antang Tanjaung dan masihbanyak lagii ragamnya Anytang dari kalangan Dayak. Tetaapi keterangan tersebuut di persempit dengan mengemukakan yang di maksut Antang itu adalah Burung Elang yang berada di udara (Elang Biasa)Antang Alam atau Anatang Manuk, akan tetapi ppada kenyataan yang di adakan atau yang di maksut dalam kalimat Antang dalam konsep salah satu ritual Dayak adalah memanggil Antang Ganan Tajahan, Antang ini di katakan oleh suku dayak adalah sosok elang Sakti Antang tersebut pada mulanya adalah seorang Manusia Gaib yang berasal dari alam lain.
Memaanggi Antang bukanlah sesuatu yang gampaang untuk ddi lakukaan, memanggil Antang harus di sertai deagan namanya, di ceriatakan bahwa Antang ini bertugas menjaga suatu kamppung dari segaala musibah, akan tetapi dia di seratai dengan Patahu. Oleh sebab itulah nama Antang juga berbeda-bedaa tergantung dengan tugas apa yang di kerjaakan untuk masyarakat yang dayak yang sudah melakukan kedekatan spiritual dengannya. Ada yang bernama Antang Layang Bagunting Lamiang yang di sinyalir tempat di desa Tumbang Hakau, sedangkan di Kurun ada Antang Pating Tumbang Tarusan, Antaang Passing Hulu Rungan, Antang lawang Karai, Antang Telu Hakanduang Kumpang, Antang Kayu Tumbang Simpul.

Asal Usul Antang
Sipenulis Jurnal mengataka bahawa mencari asal usul Antang bukanlah semudah mencari beras di toko beras, akan tetapi mencari sebutir beras di padang pasir, di karenakan sulitnya melacak jejak Antang dan tidak ada bukti yang akurat secara Ilmiyah untuk mengkonsepkan hal demikian. Di samping demikian si penulis Jurnal juga mengatakaan bahwa selain buktii yang nyata yang sukar di peroleh juag di karenakn faktor penjelsan dari waraanna atau sesepuh setemmpatt yaang berbeda-beda. Ada yang menagataakan bahwa Antang yang di maksut adalh keturunan Manusia pertama. Menurutnya bahwa segala makhlluk yang kejadiaannyaa bberasal dari darah yang ppertaama tersebut menjadi mush bagi manusia kecuali Antang dan Pantahu.

Selain penjelasan di atas mengenai Antang dan pantahu ada lagi sebuah penjelasan lisan bahwa Antang dan Pantahu itu adalah keturunan maha raja Bunu yang termasuk dari sembilan turun dan sembilan lapis, yang sudah berpindah ke alam Gaib, (Menjadi manusia gaib) dan tidak mati sesuai dengan janji Hatalla. Mengenai persoalan Antang bisa di panggil dalam seebuah upacara yang di perrintahakan oleh Ranying Haatalla yang konon katanya telah membagi tugas kepada para anak buahnya, salah satunya adalah Antang. Selain itu juga ada salah satu pendapat lagii yang mengatakan kenapa Antang bisa di panggil, karena Antang merupakan nenek moyang dari bangsa Dayak sendiri.

Asal Usul Tajahan
Antang adalah sosok makhluk yang berbagai macam orang berpendapat ada yang mmengatakan dari kalangan Burung, manusia yang berpindah alam (Ke alam gaib) ada yang mengatakan itu sebagi sosok manusia yang sudah wafat tapi masih bisa di minyai pertolongan, sebagai sebuah pendapat mengenai Antang Manajah, pemanggilan Antang di tempat yang namanya Tajahan, menurut suku dayak Tajahan adalah sebuah tempat yang tidak jauh dari kawasan penduduk, selain itu merekan juga mengatakan bahwa Tajahan itu sebgai tempat Karamat. Menurut Hans Scharer dalam bukunya “Ngaju Religion” mengatakan bahwa Taajahan ada dua macam, Tajahan Tiwah dan tajahan Kayau, mengenai tajahan tiwah itu ternyata dibuat oleh para suku Dayak setelah malaksanakan upacara Tiwah ppada zaman silam, sedangkan tajahan Kayau yaitu tajahan yang di buat oleh suku dayak pada massa silam ketika menyambut seseorang dari mengayau, selain pendpat tersebut adalagi sebuah pendapat yang mengatakan bahwa tajahan itu memang ada dua, tapi bukan yang di katakn di atas tersebut melainkan adalah Tajahan Taluh dan Tajahan Ain Uluh Kalunen.

Tajahan Taluh adalah Tajahan yang tidak dibuat oleh manusia, ia begitu saja ada secara murni, pada kebiasaannya tajahan ini berada di tengah-tengah hutan yang jauh pada tempat tinggal penduduk selain itu konon ceritanya tenpatnya pun juga sangat angker, mengenai cirinya adalah banyaknya pohon diwung yang tumbuh di sekitar tajah tersebut, pada masyarakat Dayak menamai tajahan seperti ini dengan Pahewan. Mengenai Tajahan ain uluh kalunen adalah tajahan yang dibuat oleh tangan-tangan Manusia(Khususnya suku Dayak sendiri. Mengenai tanda tajah seperti ini biasanya dengan banyaknya patung-patung di sekkitar Tajahan. Menurut suku Dayak mengenai tajahan yang di buat oleh tangan manusia ini ada beberapa macam di antaranya adalah tajahan halamung Balanga, Tajahan Tiwah dan tajahan Kayau dan yang terakkhir adalahtajahan ain uluh Kabuat, suku dayak ketika membuat tajahan bukanlah sesuatu yang gampang, tidak sembarang dan tidak asal-aslan di karenakan bahwa tajahan yang di buat oleh suku Dayak ini sesuai dengan perintah orang gaib atau makhluk halus dengan cara menampakkan dirinya terhadap orang pilihan tersebut. Teetapi jika sesorang yang di temui makhlus halus tersebut yang di perintahkan untuk membuat tajahan maka pemberian nama tajahan itu sesuai dengan nama si pembuatnya, misalnya: tajahan Ohong, yang bertenpat di Kuala Kurun.

Mengenai penghuni dari tajahan tersebut, baik dari tajahan yang lahir secara murni dan lahir dengan perbuatan manusia sendiri, di antara penghuni yang di yakini oleh suku dayak sendiri adalah: Nyaring Pampahilep, para suku dayak menganggap penghuni yang satu ini dengan Iblis, Jin dan Roh-roh gaib lainnya yang di yakini sebagai sosok yang mau membantu para penduduk jika di mintai pertolongan, selain itu yang paling utama menurut suku Dayak penghuni itu tajahan adalah Antang.

Suku dayak juga meyakini tentang kabulnya harapanyang teah di minta mereka teerhadap Antang tersebut yang beertemppat di Tajahan, tetapi mereka juga beranggapan bahwa tidak semua Tjahan ada Antangnya, hanya tajah tertentu saja yang ada Antangnya. Seluruh penghuni tajahan yang berupa roh-roh semuanaya adalah jahat tidak terkacuali Antang yang suka menolong manusia, selain itu jika saja manusia tidak memberi sesajen kepadanya maka Antang akan memberikan malapetaka kepada manusia tersebut selian itu jika tempat mereka (Tajah) di gangguu atau di rusak maka Antang akan memberikan malapetaka juga kepada manusia.

Kerusakan Tajahan bagi suku Dayak adalah sangat di takutkan, oleh karena itulah suku Dayak jika ada keruusakan atau ada yang merusak Tajahan maka akan di adakan denda dan kkemudian di adalah upacara permohonan ampun terhadap penghuni tajahan tersebut, dan uniikknya, penghuni tajahan tersebuut konon katanya makanannya adlah darah mentah.

The human heart of Borneo

© WWF-Canon / Alain COMPOST
Mirroring the island’s natural diversity and the tides of change that have swept through over the centuries, Borneo’s people are a mosaic of culturally distinct indigenous groups scattered across the landscape.
This fascinating make-up has been shaped by internal warfare, shifts in settlement and centuries-old trading relationships. 

An estimated 18 million people live on the island, with the majority based in the coastal lowlands and cities. The forests of the Heart of Borneo area are of high value for people’s livelihoods and the environment. There is a strong interdependence between Indigenous Peoples and the resources as well as the services the forest provides.

The peoples of the Heart of BorneoThe indigenous peoples of the Heart of Borneo are commonly known as Dayak. The term was coined by Europeans referring to the non-Malay inhabitants of Borneo. 

There are over 50 ethnic Dayak groups speaking different languages. This cultural and linguistic diversity parallels the high biodiversity and related traditional knowledge of the Heart of Borneo.

Diverse Dayak languagesMany of Borneo’s languages are endemic. It is estimated that around 170 languages and dialects are spoken on the island of Borneo and some by just a few hundred people, thus posing a serious risk to the future of those languages and related heritage.

Cultural tradition and artsBorneo culture and art are reflected and expressed through custom, dance and music, food and drink, and even tattoo.

Tattoos
Traditional tattooing has been customary among men and women in several groups of Dayak Peoples. They use motif designs of snakes, birds and plants, sometimes combined, to symbolise meanings such as bravery, patience and beauty. The motifs are symbolic of the social class, and of individuals of a certain social standing that are allowed to be tattooed with particular motifs.

Dance
The traditional Dayak hornbill dance is named after the bird with a big casque, long down-curved bill and black and white feathers. The hornbill is both an important species and cultural symbol for Dayak peoples.

The hornbill dance, the most well-known traditional Dayak dance, is performed in stylised movements of the arms to resemble a flying hornbill. Both men and women wear an adorned headdress, women dancers hold hornbill feathers tied to their hands which will open up when the hands move, while men dancers will hold a shield and a ritual knife. The dance is usually accompanied by sape music.

Originally, dances were performed as part of a post-warfare ritual, to greet returning warriors who fought the enemy or came back from successful head-hunting expeditions. Nowadays, dances are commonly featured during the rice harvest season, New Year and other celebrations, or to greet important visitors to the community.

Music
The sape’, (also known as sampe or sapeh), is a traditional lute played by many of the Dayak communities in the Heart of Borneo during celebrations, like harvest festivals (gawai) and rituals. One string carries the melody and the accompanying two strings are struck rhythmically to produce a drone.

Community livingSome Dayak people once lived mostly in massive communal structures known as longhouses. These could be up to 12 metres high and house over 100 families under one roof, affording safety from attacks during times of warfare. Inside, families lived in separate apartments arranged along a central corridor, which served as a communal area. 

While some groups still live in longhouses, many have moved into individual houses – either because of government pressure or because inter-tribal warfare has stopped.

Managing natural resources – traditional knowledgeFor centuries, the Dayak indigenous people in the Heart of Borneo have managed the forests in sustainable ways. Their practices, supported by customary regulations and traditional knowledge, have contributed to the maintenance and preservation of the rich and extraordinary biodiversity of the Heart of Borneo.

Communities living in the interior of Borneo are still largely regulated by customary law or adat which govern their daily affairs and management of natural resources within their customary territory. 

Communities in the Heart of Borneo have long used zoning as a land management tool, where the forest territory of each village or settlement is divided into areas for non-timber forest product (NTFP) collection, hunting, agriculture (rice paddies and swiddens), gardens, old settlements and sacred sites.

Managing natural resources – Dayak customary regulationsLocal regulations specify the rates and means of collection of forest resources that stress sustainability and minimise stress to the environment. For example, there is emphasis on not wasting animals or forest products by collecting more than needed or harvesting them in ways that would hamper their future reproduction or growth.

All Dayak communities ban the use of chemicals and sophisticated technology for catching fish and only traditional tools like nets, rods and fish traps may be used. All customary regulations state that trees at the headwaters of rivers may not be cut and recommend that salt springs in the forest and common hunting grounds not be damaged.
 
Copyright © 2013 DAYAK NEWS
Design by FBTemplates | BTT