BREAKING
Tampilkan postingan dengan label BERITA DAYAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA DAYAK. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2013

Suku Dayak dan Keseimbangan

Odong Klerek – Damang Suku Dayak Siang Murung
"Kehidupan akan berjalan baik apabila terjaga keseimbangan antara manusia dengan alam semesta"

Pernyataan tersebut membuka perbincangan kami dengan Odong Klerek, Damang Suku Dayak Siang Murung, di Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Dalam struktur adat Dayak Siang Murung, Damang bertanggung jawab dalam bidang pengawasan dan penuntutan peradilan dalam upaya pelestarian lingkungan. Modernisasi di wilayah Kalimantan Tengah, tetap disoroti oleh Pelestari Adat ini agar tidak merampas kekayaan alam apalagi mengotori tempat-tempat yang menurut adat merupakan lokasi sakral.

Kadang sebagai manusia yang tak mengenal adat suatu daerah, kita bisa saja bertindak tak menghormati sakralitas suatu daerah. Damang Odong Klerek pernah menyampaikan protes kepada pemerintah karena pernah memberikan keleluasaan kepada investor asing untuk melakukan aktivitas menambang di kawasan situs budaya Puruk Kambang. [rivermapping]

Bagi masyarakat Dayak Siang, Puruk Kambang sangat disakralkan karena diakui sebagai tempat diturunkannya PUTIR SIKAN dengan Palanggka Bulou oleh Mohotara Lobata atau Ranying Hatalla Langit Panganteran Bulan Raja Tuntung Matan Andau, yang menjadi cikal bikal suku Dayak Siang di pulau Kalimantan sebelum terbentuk negara Indonesia. 

Sikap tegas masyarakat adat amat penting dikuatkan oleh siapapun orang yang peduli akan kelestarian alam. Seperti kita ketahui, di nusantara ini banyak sekali masyarakat adat yang berjuang untuk mempertahankan tradisi dan kelestarian budaya leluhur. Perkembangan suatu daerah di nusantara ini umumnya sering tak mengindahkan kesucian adat dan tanah leluhur, akhirnya negara dengan investor dari Luar dapat melakukan eksploatasi alam yang mengancam keseimbangan.

Kekhawatiran tersebut juga pernah disampaikan oleh Mursyid, Wakil Jaro Tangtu Tujuh desa Cibeo, Baduy Dalam. Saat aku bercengkrama dengannya pada November 2008, ia menyampaikan kegelisahannya tersebut dan menyeru agar semua masyarakat adat di nusantara berani mempertahankan tradisi leluhur sehingga dapat terlepas dari bencana, yang dipercaya sebagai murka sang penguasa alam.

Sepotong Jalan Rusia dan Impian Soekarno

Jalan aspal itu lurus dan mulus. Tak ada guncangan ketika mobil melaju kencang di atasnya. Ini berbeda dengan jalan trans- Kalimantan dari Nunukan, Kalimantan Timur, hingga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang penuh lubang dan bergelombang.

Warga setempat mengenal jalan itu sebagai Jalan Palangkaraya-Tangkiling. Namun, Gardea Samsudin (70) mengenangnya sebagai Jalan Rusia.

Samsudin, lelaki asal Bandung, Jawa Barat, adalah sedikit saksi yang tersisa dari sepotong jalan sepanjang 34 kilometer dengan lebar 6 meter yang dibangun oleh para insinyur dari Rusia—dulu The Union of Soviet Socialist Republics. Bersama puluhan warga Dayak, Samsudin dan ratusan orang Jawa lain bekerja di bawah arahan belasan insinyur Rusia. ”Saya ikut menyusun batu-batu yang menjadi fondasi jalan ini,” kata Samsudin yang kini menetap di Palangkaraya.

Tak gampang mencari saksi lain pembangunan Jalan Rusia yang mau bicara. Sabran Achmad (80), tokoh masyarakat Kalteng, menuturkan, banyak pekerja yang ikut membangun Jalan Rusia itu menyembunyikan diri. Ini tidak lepas dari politik Orde Baru yang memberi stigma hitam kepada sesuatu yang berbau Orde Lama. Dan, jalan yang dibangun oleh insinyur Rusia itu memang berasal dari era Soekarno, yang dekat dengan negara Blok Timur itu tahun 1950 hingga 1960-an.

”Jalan itu dibangun menandai pembangunan Kota Palangkaraya. Sebelumnya, jalan itu berupa hutan lebat. Pohon-pohonnya besarnya segini,” kata Sabran sambil melingkarkan kedua lengannya.

Mimpi Soekarno

Pada mulanya adalah ayunan kapak Presiden Soekarno pada sebilah kayu di Pahandut, Kampung Dayak, di jantung Kalimantan, 17 Juli 1957. Sebilah kayu yang dibelah itu menandai pembangunan kota baru yang diimpikan Soekarno. Kota baru ini kemudian diberi nama Palangkaraya yang berarti tempat suci, mulia, dan agung, yang didesain sebagai ibu kota Indonesia Raya.

Namun, mimpi Soekarno tak pernah jadi kenyataan. Palangkaraya saat ini hanyalah sebuah ibu kota Provinsi Kalteng yang gelap dan tak bergairah karena kekurangan pasokan listrik.

Dirancang sebagai ibu kota negara, awalnya Palangkaraya dibangun dengan konsep yang jelas. Ada pengelompokan fungsi bangunan yang memisahkan fungsi pemerintahan, komersial, dan permukiman. Tata kotanya dirancang dengan memadukan transportasi darat dan sungai.

Sungai Kahayan menjadi pusat orientasi di sebelah utara kota. Sebuah jalan darat dibangun di pusat kota menuju arah Sampit. Jalan itulah yang kini dikenal sebagai Jalan Rusia, ruas jalan nasional terbaik sepanjang jalan trans-Kalimantan yang dilalui Tim Jelajah Kalimantan Kompas bersama Departemen Pekerjaan Umum (PU). ”Kita tak pernah lagi membangun jalan sebaik Jalan Rusia yang masih mulus walau sudah puluhan tahun. Lihatlah, jalan-jalan lain di Kalimantan yang baru dibangun cepat sekali rusak,” kata Wibowo, staf Departemen PU anggota Regional Betterment Office VII Banjarmasin.

Menggali gambut
Sepotong jalan itu menjadi saksi kemahiran insinyur-insinyur Rusia membangun jalan di tanah yang sangat berbeda kondisinya dengan negara asal mereka. Sabran mengisahkan, semua gambut di tapak jalan dikeruk. ”Setelah gambut dikeruk, terciptalah alur seperti sungai. Lalu, alur itu diisi batu, pasir, dan tanah padat,” kata Sabran.

Pada 17 Desember 1962, pembangunan fondasi Jalan Rusia selesai. Pada tahun-tahun berikutnya, tinggal pembuatan drainase, pengerasan, dan pengaspalan. Pekerjaan yang lambat, tetapi hasilnya prima.

Namun, pembangunan jalan yang direncanakan sepanjang 175 kilometer melewati Parenggean lalu ke Sampit dan Pangkalan Bun kemudian menghubungkan Palangkaraya dengan pelabuhan-pelabuhan sungai menuju ke Jawa ini dihentikan awal tahun 1966. Ketika itu jalan yang terbangun baru 34 km.

Pergantian kekuasaan pasca-Gerakan 30 September 1965 membuat orang-orang Rusia bergegas meninggalkan Indonesia. Semua pekerja proyek menyembunyikan diri karena tak ingin disangkutpautkan dengan Rusia, Partai Komunis Indonesia, atau bahkan Soekarno.

Cerita pembangunan Jalan Rusia itu pun tamat. Segala yang berbau Rusia dihapus, termasuk ilmu pembangunan jalan yang diajarkan insinyur mereka di ruas Palangkaraya-Tangkiling. Pembangunan jalan di Kalimantan tidak pernah lagi dimulai dengan mengeruk gambut. Namun, cukup dengan fondasi berupa kayu galam yang ditancapkan di lahan gambut itu (fondasi ini dikenal sebagai cerucuk). Pembangunan jalan menjadi lebih murah dan cepat, tetapi konstruksi jalan tidak awet.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Provinsi Kalteng Ridwan Manurung menuturkan, secara teori, ruas Palangkaraya- Tangkiling yang dibangun Rusia itu yang benar. ”Saat membuka trase jalan, harus diperhatikan struktur tanah dasar, fondasi, dan lapisan penutupnya. Jika ada tanah humus, harus diganti dengan pasir, tanah padat, atau granit. Sedalam apa pun gambutnya, harus dibuang,” katanya.

Menurut Wibowo, pembangunan jalan dengan teknik Rusia itu membutuhkan biaya tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan teknik yang dilakukan dengan cerucuk, seperti yang sekarang kita buat. ”Namun, umur jalan dengan teknik Rusia itu bisa lima kali lipat dari jalan kita,” katanya.Bangsa ini sepertinya memang suka yang instan. Cepat selesai, cepat pula hancur.

Pang Suma, Panglima Perang dari Meliau

Nama Pangsuma merupakan nama besar di Kabupaten Sanggau, menjadi sebuah goresan sejarah karena Pangsuma merupakan tokoh pahlawan. Meski demikian, nama ini ternyata terdengar asing di telinga masyarakat Kabupaten Sanggau, padahal Pangsuma cukup tenar dan terkenal di Kota Pontianak.

Di Kota Pontianak sendiri, nama Pangsuma menjadi populer karena menjadi icon dan terpampang besar sebagai nama tempat atau gedung olah raga atau sering disebut GOR Pangsuma.

Kegigihan seorang Pang Suma melawan tentara Jepang pada tahun 1945 telah membakar semangat masyarakat Kalbar yang lain ketika itu untuk mengusir penjajahan Jepang.
Informasi kematian salah satu pejuang Kalbar dan Panglima Perang ini, tidak menyurutkan para anggota Perang Majang (pasukan pimpinan Pang Suma) saat itu untuk melanjutkan perjuangan.
Mereka justru bergelora untuk mengusir Jepang dari Bumi Kalimantan Barat. Seperti di Ngabang yang dipimpin Panglima Batu, di Sanggau oleh Panglima Burung serta di Ketapang oleh Panglima Banjing dan Pang Layang.

"Mereka lakukan agar Jepang mengakhiri kekejamannya dan pergi dari Kalbar," tutur Peneliti Sejarah pada Balai Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalbar, Dra. Juniar Purba.
Pang Suma adalah tokoh pejuang dari suku Dayak yang tinggal di Dusun Nek Bindang di tepian Sungai Kapuas Desa Baru Lombak Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau.

Anak ke-3 dari 6 bersaudara ini memiliki nama asli Bendera bin Dulung. Namun ada pula yang menyebutnya Menera. Arti nama Pang Suma sendiri adalah Bapak si Suma. Panggilan dengan mengguakan Pang merupakan satu kebiasaan penduduk setempat memanggil nama orang tua dengan menyebut nama anaknya yag paling besar. Ini dikarenakan agar lebih sopan daan hormat dari pada menyebut nama langsung orang tersebut.

Menjelang akhir hayatnya, ia telah mendapatkan pertanda buruk. Ujung Nyabur (pedang) yang dimilikinya patah, sebelum ia menyerbu markas Jepang di Kantor Gunco (Camat) Meliau pada 17 Juli 1945.
Pertanda itu pun menjadi kenyataan. Sebuah peluru menembus pahanya yang konon merupakan rahasia kekuatan dari Panglima Perang ini. Namun, disaat menahan kesakitan itu, ia sempat berpesan kepada rekan seperjuangannya yang membopongnya dari lokasi perang.
"Tinggal aja aku disito uda nada aku to idop lagi, pogilah kita, maju terus berjuang," pesan Pang Suma dalam bahasa Dayak seperti yang dikutip dari "Pangsuma Riwayat Hidup dan Pengabdiannya" yang artinya tinggalkan saja saya di sini saya tidak bisa hidup lagi pergilah kamu maju terus berjuang.

Perjuangannya adalah pengorbanan yang patut dijadikan berikan apresiasi bagi masyarakat Kalbar dan pemerintah meskipun dia dan keluarganya tidak mengharapkan imbalan apapun.
Namun, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa dan pengorbanan pahlawannya. Sehingga tentunya patut diberikan. Dan generasi mendatang wajib mencontoh dan mengambil hikmah yang telah dikorbankan Pang Suma dalam membela bangsa dan tanah air.

Darah Dayak di Madagaskar?

Etnis Malagasi yang kini menempati Madagaskar ternyata berasal dari rahim 30 perempuan yang terdampar di daerah itu pada 1.200 tahun lalu. Di antara 30 perempuan itu, 28 perempuan di antaranya berasal dari Indonesia.

Murray Cox, peneliti genetika dari Massey University, Selandia Baru, tertarik dengan penelitian yang menyatakan bahwa darah Dayak mengalir di tubuh penduduk Madagaskar. Disebutkan satu milenium lampau sekelompok etnis asli Kalimantan berlayar menggunakan perahu di Samudra Hindia. Kencangnya ombak di perairan luas ini mendorong perahu hingga terdampar di Madagaskar yang tak berpenghuni. 

Kelompok yang terdampar tersebut kemudian membuka lahan di dataran tinggi untuk dijadikan permukiman dan sawah. “Kami berbicara mengenai satu budaya yang berpindah tempat melintasi Samudera Hindia," katanya kepada LiveScience. 

Bukti etnis Dayak sebagai pemukim pertama Madagaskar kini masih terawetkan pada tiga suku yang berdiam di dataran tinggi, yaitu Merina, Sihanaka, dan Betsileo. Ketiganya masih berkomunikasi menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Barito yang banyak dipakai di Kalimantan bagian selatan.

Pertanyaan yang masih tersisa di benak peneliti ini adalah seperti apa kontribusi genetik pemukim pertama ini terhadap penduduk Madagaskar saat ini. Untuk mengetahuinya, dia mempelajari gen yang didapat dari mitokondria 300 penduduk Madagaskar dan 3.000 penduduk Indonesia. 

Pemilihan mitokondria disebabkan dapur energi pada sel ini menyimpan gen yang diturunkan oleh ibu. Sampel gen memperlihatkan kemiripan antara genom orang Indonesia dan Madagaskar.

Pekerjaan berikutnya adalah mengetahui kapan dan bagaimana etnis dari Indonesia sampai di pulau tersebut. Simulasi komputer digunakan untuk menelusuri silsilah genetik manusia Madagaskar yang hidup saat ini hingga ke masa lalu. 

Hasilnya memperlihatkan bahwa penduduk Madagaskar saat ini terhubung dengan 30 perempuan. Perempuan-perempuan ini diperkirakan menjadi pemukim pertama sekitar 1.200 tahun lalu, yaitu 28 perempuan Indonesia dan dua lainnya dari Afrika.

Dari penelitian lain diketahui kromosom Y yang diturunkan dari ayah menunjuk pemukim laki-laki pertama Madagaskar juga berasal dari Indonesia. Namun tak diketahui berapa banyak jumlah mereka.

Berdasarkan fakta bahwa pria dan wanita penduduk Madagaskar berasal dari Indonesia, Cox menduga jumlah laki-laki pertama di pulau ini relatif sedikit.

Dari hasil penelitian ini, dia yakin populasi etnis Dayak yang terdampar segera berkembang pesat dan menguasai pulau. Diperkirakan kelompok besar sudah tercipta dalam beberapa generasi saja.

Pertanyaan yang belum terjawab adalah kenapa pemukim pertama ini bisa sampai di Madagaskar. Ada kemungkinan mereka sampai di Madagaskar tanpa disengaja. 

Skenario yang mungkin terjadi adalah kelompok etnis Dayak berlayar dengan kapal yang sanggup menampung 500 orang. Di tengah samudra, kapal yang mereka tumpangi terbalik dan terdorong arus laut ke arah barat.

"Beberapa orang menyelamatkan diri menggunakan perahu cadangan," katanya.

Penumpang yang selamat inilah yang kemudian mendarat di Madagaskar dan mendirikan permukiman pertama di pulau tersebut.

DNA Orang Dayak Akan Diteliti

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman akan meneliti DNA orang Dayak. Tujuannya adalah untuk mengetahui relasi orang Dayak dengan Madagaskar.

Sebelumnya, telah terungkap lewat penelitian Murray Cox dari Massey University di Selandia Baru bahwa 30 perempuan Indonesia menjadi nenek moyang orang Madagaskar. Para perempuan tersebut datang ke pulau di Afrika itu sekitar 1200 tahun lalu.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman juga terlibat penelitian tersebut. Data genetik orang Indonesia yang dibandingkan dengan genetik orang Madagaskar, berasal dari 2.745 individu, di 12 pulau adalah hasil penelitian Eijkman. 

Prof. Dr. Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengatakan, bahasa orang Madagaskar mirip dengan bahasa Dayak Maanyan. Dengan demikian, diduga bahwa nenek moyang orang Madagaskar secara spesifik adalah orang Dayak Maanyan.

Penelitian Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ke depan bertujuan memastikan kaitan antara Dayak Maanyan dan Madagaskar. 

"Mulai minggu depan, kita akan lakukan penelitian awal. Kita akan ke kota banjarmasin, mengambil sampel DNA orang Dayak dan Banjar. Kita akan ambil sampel DNA semua orang dayak dahulu, tidak terbatas pada Dayak Maanyan, nanti akan kita lihat lagi," kata Herawati.

Sementara, penelitian yang lebih dalam akan dilakukan tahun depan dengan melibatkan pakar linguistik yang memahami bahasa Dayak Maanyan.

"Pertengahan tahun depan kita akan teliti lagi dengan mengajak pakar linguistik. Nanti kita akan bandingkan bagaimana kemiripan bahasa dengan kemiripan genetik," ungkap Herawati di sela seminar setengah hari bertema "Capacity Building in Wildlife Conservation and Forensic Genetics".

Sampel DNA akan diambil dari air liur dan darah. Sebisa mungkin, sampel DNA dari orang pure Dayak Maanyan bisa diperoleh. Analisis akan dilakukan pada DNA mitokondria. 

Menurut Herawati, penelitian DNA orang dayak tidak hanya bertujuan untuk memastikan kaitannya dengan orang Madagaskar, tetapi juga tertarik keragaman populasi dan penyakit, seperti resistensi terhadap malaria dan sebagainya.

Minggu, 21 Juli 2013

Tari Tatag De Penyawo, kisah Manusia Suku Dayak


Tari Tatag De Penyawo karya Usman Najrid Maulana asal Tarakan, Kaltim ini merupakan karya tari sebagai syarat kelulusan Sarjana seni di perguruan tinggi seni Yogyakarta. Pementasan yang di hadiri ratusan penonton ini memadati auditorium Tari FSP ISI Yogyakarta pada hari kamis 11/07/2013. Kemampuan menari tarian Dayak sekaligus kecermatan menggunakan busana adat dalam sebuah pementasan tari merupakan konsep dasarnya. Tarian Dayak yang ditampilkan Usman adalah tari Dayak dengan motif gerak berjalan tari ‘Hudoq Kita’. Keahlian mengenakan busana adat Dayak terlihat ketika diatas panggung, seorang penari merepresentasikan sosok manusia yang lahir telanjang lalu mengenakan busana penutup bagian tersembunyi tubuh (cang cut) dengan cermat diatas panggung. Menurut koreografernya, judul tari Tatag De Penyawo diambil dari bahasa Suku Tidung, Tatag berarti hilang, De Penyawo artinya rasa dari hati yang paling dalam. Jadi arti dari Tatag De Penyawo adalah rasa kehilangan yang dalam dari lubuk hati yang terdalam. Tari Tatag De Penyawo terinspirasi dari seni pertunjukan ritual ‘Hudoq Kita’, ritual tari yang menggambarkan Dewa-Dewi padi datang pada saat upacara ‘Pelas Tahun’ atau kegiatan pengucapan terima kasih kepadaTuhan setelah panen raya. Konsep koreografi ini berasal dari ide atau gagasan yang muncul dari diri penata tari berdasarkan pengalaman empiris mengenai identitas Dayak. Penata merupakan keturunan Suku Dayak Tidung yang menganut agama Islam, tidak sesuai ajaran-ajarannya yang sangat bertentangan dengan kebudayaan tradisi Dayak. “Penata mempunyai keinginan tetap menjaga dan melestarikan tradisi Dayak yang selalu muncul dalam diri. Kegelisahan tentang dilema antara agama yang dianut dengan tradisi Dayak itulah yang menjadi ide dasar koreografi ini,” Jelas Usman setelah pementasan.

Tari Tatag De Penyawo diawali dengan adegan introduksi menggambarkan dayak dengan agama adatnya (Kaharingan) dan ‘bedindang / baindangsansana Malahoi,’ Atau melakukan doa suci kepada Dewa langit. Kemudian adegan pertama menggambarkan proses dan perjalanan hidup manusia. Proses kehidupan ditampilkan dengan adanya kehidupan baru yang diawali dengan sperma membuahi indung telur lalu menjadi bayi. Pada masyarakat adat Dayak Hudog (topeng) biasa ditarikan oleh wanita dengan menggunakan topeng cantik dari anyaman manik-manik berbentuk cadar menggambarkan manusia sebagai simbol kebaikan. Namun pada karya tari Tatag De Penyawo ini, tarian Hudog Kita ditampilkan penari pria. Argumentasi Usman, adalah ia ingin menampilkan dua tubuh sekaligus, tubuh laki-laki dengan rasa feminim. “Hudoq merupakan salah satu ciri khas dan identitas masyarakat Dayak,” kata Usman. Kemudian dalam proses koreografinya penata membuat topeng baru yang diberi nama Hudoq Kublo. Kublo berasal dari suku Tidung yang berarti cadar. Koreografi yang menampilkan Hudog Kita dan Hudog Kublo hadir pada bagian tari ketiga. Adegan kedua tarian ini diawali dengan penari turun dari atas panggung dengan kain menggambarkan manusia dalam rahim dalam keadaan telanjang atau suci dan dihadapkan dengan realita kehidupan. Lalu manusia itu lahir memakai busana kemudian bergerak meraih Hudoq Kublo yang juga diturunkan dari atas panggung. Adegan ketiga menampilkan tari Hudoq Kita menggambarkan identias Dayak melalui warna-warni yang menjadi simbol kehidupan, disimbolkan dengan kain warna-warni beras pada sesaji. Pada adegan ketiga ini, kembali ditampilkan adegan memakai busana cawat (cang cut) sambil menari.
 Sumber


Tradisi Bersih Kubur Dayak Orung Da’an

“Adat ada sebelum agama dan negara,” kata Rajan, mantan kepala suku Dayak Orung Da'an.
Kalimat dari mantan temenggung Dayak Orung Da’an itu dapat menggambarkan kuatnya adat dalam kehidupan masyarakat di Nanga Raun. Dayak Orung Da’an adalah subsuku Dayak yang bermukim di hulu Sungai Mandai, jauh di tengah pulau Kalimantan. 
Seminggu sebelum Paskah, kebiasaan adat Bersih Kubur dilakukan. Itulah saat mereka membersihkan kubur dan memberi persembahan makan dan minum terhadap keluarga mereka yang telah meninggal, sebab mereka percaya bahwa orang mati sebenarnya masih hidup bersama mereka, hanya berpindah ke alam lain. Selain menjelang Paskah, tradisi Bersih Kubur juga dilakukan menjelang Natal. Ekspedisi Hello Borneo Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengabadikannya dalam foto.




















 
Copyright © 2013 DAYAK NEWS
Design by FBTemplates | BTT