BREAKING
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Agustus 2013

PEMBANTAIAN NANKING 1937




Pembantaian Nanking merupakan pembunuhan massal, genosida, dan perkosaan selama perang berlangsung yang terjadi dalam waktu 6 minggu menyusul jatuhnya kota Nanjing (Nanking), bekas Ibukota Republik Cina ke tangan Jepang, tanggal 13 Desember 1937, semasa perang antara Cina dan Jepang (the Second Sino-Japanese War). Selama masa ini berlangsung, ratusan ribu warga sipil Cina dan tentaranya yang sudah menyerah dibunuh dan 20.000–80.000 pria, wanita dan anak-anak diperkosa oleh pasukan kekaisaran Jepang.
Peristiwa ini menjadi wacana serta perdebatan politik yang sangat kontroversial, meskipun banyak juga yang menyatakan bahwa peristiwa ini telah dilebih-lebihkan di antaranya adalah revisionis sejarah dan orang-orang Jepang itu sendiri,yang mengklaim bahwa ini hanyalah propaganda semata.

Jumlah pasti korban pembantaian Nanking belum pernah diketahui karena kebanyakan dari catatan kemiliteran Jepang pada saat peristiwa itu terjadi sengaja dimusnahkan tahun 1945. Pengadilan militer Internasional untuk Kawasan Timur Jauh memperkirakan ada lebih dari 200,000 korban dalam peristiwa tersebut, Cina sendiri memperkirakan sekitar 300,000 korban, berdasarkan evaluasi dari Pengadilan atas kejahatan Perang di Nanjing, sementara dari pihak Jepang cukup beragam, berkisar antara 40,000–200,000 korban jiwa.

Meskipun Pemerintah Jepang telah mengakui tentang pembantaian sejumlah besar warga sipil, penjarahan, dan kejahatan-kejahatan lain yang dilakukan oleh Pasukan Kekaisaran Jepang setelah jatuhnya Nanking ke tangan mereka, segelintir minoritas vokal di tubuh pemerintahan maupun masyarakat Jepang meyakini bahwa cara-cara yang dilakukan dalam peristiwa tersebut sama sekali tidak pernah ada. Penolakan tentang fakta pembantaian tersebut sudah menjadi inti dari Nasionalisme Jepang. Di Jepang sendiri, opini masyarakat bervariasi namun hanya sedikit yang meragukan keabsahan peristiwa tersebut.

Tragedi di Sungai Yangtze
13 Desember, sejumlah besar Pengungsi berusaha melarikan diri dari Pasukan Jepang dengan mencoba menyeberangi Sungai Yangtze. Mereka akhirnya terjebak di bendungan timur karena tidak ada transportasi air yang bisa mereka pakai; kebanyakan dari mereka mencoba menyeberangi sungai tersebut dengan cara berenang. Sementara itu Pasukan Jepang akhirnya tiba dan memberondong pengungsi yang mencoba melarikan diri tadi, baik yang ada di tepian maupun yang berada di tengah-tengah sungai. Seorang Prajurit Jepang melaporkan bahwa pada keesokan harinya, ia menyaksikan mayat-mayat orang dewasa dan anak-anak bergelimpangan yang tak lagi bisa dihitung menutupi permukaan sungai Yangtze. Prajurit tersebut memperkirakan bahwa ada lebih dari 50.000 orang yang tewas dalam insiden tragis ini.

Pemusnahan di dalam Kota
Ketika Pasukan Jepang pertama kali menginjakkan kaki di Kota Nanking pada 13 Desember, jalan-jalan di Kota disesaki oleh lebih dari 100.000 pengungsi atau Prajurit China yang terluka. Pasukan Jepang tanpa ampun memberondong mereka dengan senapan. Keesokan paginya, Tank-Tank dan Artileri memasuki kota dan pembantaian berlanjut. Gelimangan mayat menutupi dua jalan besar di Kota Nanking.

Eksekusi Massal Terhadap Tawanan
Sejumlah besar Pasukan China telah tertangkap di pelosok-pelosok kota sebelum Pasukan Jepang memasuki Nanking. Sisa-sisa dari Pasukan China berhamburan di dalam Kota dan mengganti pakaian mereka dengan pakaian rakyat sipil. Setelah memasuki Kota, pada tanggal 17 Desember, Pasukan Jepang menahan siapapun yang dicurigai sebagai Pasukan China. Sejumlah besar pemuda yang ditahan beserta mereka yang telah ditangkap sebelumnya, dibawa keluar kota untuk dieksekusi. kebanyakan dari mereka dieksekusi menggunakan senapan mesin, dan mereka yang masih hidup ditikam menggunakan bayonet (pisau di ujung senapan). Ada juga yang dilumuri minyak tanah dan kemudian dibakar hidup-hidup, dan juga ada yang memakai gas beracun.

Kekejaman Tanpa Pandang Bulu yang Ekstrim
Sejumlah kekejaman terjadi di dalam dan sekitar Kota Naking, dan korbannya kebanyakan warga sipil. Pasukan Jepang menerapkan dan mempraktekan cara membunuh yang sama sekali tidak manusiawi dan barbar. Kebrutalan mereka mencakup Menembak, menikam, Menghantam Kepala, Membelah Perut, Mengeluarkan Jantung, Memancung, menenggelamkan, membakar, dan bahkan memotong atau menusuk (maaf...) vagina atau kemaluan wanita.

Penjarahan
Pasukan Jepang menjarah barang-barang rumah tangga dan menyita hampir semua milik warga sipil. Penjarahan termasuk perhiasan, keping uang, hewan yang dilindungi, pakaian, barang antik, dan bahkan barang yang sama sekali tidak berharga mahal semacam rokok, telur, pena tinta, dan kancing.

Pembakaran dan Perusakan
Pasukan Jepang sengaja membakar gedung-gedung di dalam kota. Setelah mereka membakar gedung-gedung tersebut entah dengan minyak tanah atau bahan kimia yang mudah terbakar lainnya, mereka bersembunyi, dan kemudian membunuh orang-orang yang mencoba memadamkan api tersebut.

Dan mirisnya lagi, ada dua tentara terkenal dari Jepang di bawah ini yang mengadakan kontes membunuh 100 orang dengan dengan pedang, Yaitu Letnan Dua Toshiaki Mukai dan Letnan Dua Tsuyoshi Noda. Letnan Toshiaki Mukai memenangkan kontesnya dengan korban 106 warga Cina, Sedangkan Letnan Tsuyoshi Noda menyusul dengan 105 korban tewas di tangannya.


Ini orang-orang yang bertanggung jawab atas pembantaian yang terjadi di nanking 1937
  
Letnan Jenderal Hisao Tani, dia diseret ke pengadilan militer atas kejahatan perang di nanking berserta 3 orang lainnya Kapten Gunkichi Tanaka (Ketika pembantaian terjadi Kapten Gunkichi Tanaka membunuh 300 warga Cina dengan pedang Tsu-Kuang - dia menamai pedangnya dengan nama anaknya) dan duo Letnan yang mengadakan kontes membunuh 100 orang dengan pedang yaitu Toshiaki Mukai dan Tsuyoshi Noda.

Letnan Jenderal Hisao Tani dinyatakan bersalah pada 6 Februari 1947 dan dieksekusi mati pada 10 Maret 1947 dihadapan regu tembak.

Sementara kedua Letnan, Toshiaki Mukai dan Tsuyoshi Noda dieksekusi pada 28 January 1948.

dan juga orang ini, Jenderal Iwane Matsui, dia didakwa sengaja membiarkan dan lalai melaksanakan tugasnya untuk mengambil langkah yang tepat untuk mencegah pelanggaran terhadap konvensi Den Haag dan masih ada beberapa orang yang bertanggung jawab namun tidak pernah di peradilankan karena berbagai alasan.


Rabu, 14 Agustus 2013

SEJARAH HAK PATEN

Hak paten memiliki sejarah yang amat panjang. Dunia penerbitan di abad pertengahan hanya mengenal konsep kepemilikan sebuah karya (dalam hal ini buku) dan sama sekali belum memberikan perlindungan terhadap hak-hak para penulis. Sehingga jika seseorang ingin menyalin sebuah buku, yang ia harus lakukan adalah meminjam dan membayar kepada sang pemilik buku. Saat itu belum terbersit sedikit pun untuk memberikan kompensasi kepada pengarang/ penulis buku.

Dunia penerbitan belum berkembang dengan pesat. Hampir semua reproduksi buku dan karya-karya monumental dilakukan oleh pihak gereja. Di tahun 1440, terjadilah revolusi dalam dunia penerbitan, yang ditandai dengan diciptakannya mesin cetak jenis moveable oleh Johannes Gutenberg. Mesin ciptaan Gutenberg mampu menghasilkan tidak hanya ratusan tetapi ribuan eksemplar per hari. Di abad XV hal ini dianggap sangat fenomenal, mengingat reproduksi buku adalah sebuah kegiatan yang sangat mahal dan sangat lama (karena harus dilakukan secara manual oleh manusia).

Hak paten belum dikenal hingga tahun 1770. Pada tahun tersebut, Parlemen Britania Raya menetapkan sebuah undang-undang yang memiliki tujuan utama melindungi hak-hak para penulis dan penerbit. Beberapa bagian dari undang-undang tersebut memiliki banyak kesamaan dengan undang-undang hak cipta di masa kini, misalnya pengakuan terhadap hak-hak pengarang/ penulis, jangka waktu berlaku hak cipta selama 28 tahun, kewajiban bagi penulis untuk mendaftarkan secara terbuka klaim mereka atas karya yang dihasilkan, dan sebagainya.

Tahun 1787 merupakan tonggak bersejarah berikutnya bagi perkembangan hak cipta. Pemerintah AS kala itu menetapkan dalam Konstitusi AS bahwa Kongres memiliki kewenangan untuk memberikan hak eksklusif terhadap para penulis dan penemu sehubungan dengan tulisan serta temuan mereka.Tiga tahun kemudian (1790), hukum hak cipta pertama disahkan. Undang-undang hak cipta AS ini memiliki banyak kemiripan dengan undang-undang serupa yang sebelumnya diterbitkan di Britania Raya. Sayangnya undang-undang tersebut hanya melindungi barang-barang cetak dan belum menyentuh komoditas lainnya, contohnya musik. UU Hak Cipta pertama ini juga telah menerapkan hukuman bagi para pelanggar, misalnya penyitaan dan kewajiban membayar sejumlah uang sebagai denda.

Beberapa tokoh pendukung penegakan hukum hak cipta ialah Noah Webster, James Madison, George Washington, serta Thomas Edison. Webster menyusun beberapa buku terkenal seperti The American Spelling Book 1783 dan The American Dictionary of the English Language. Sementara itu, James Madison, George Washington, dan Thomas Edison adalah beberapa jurnalis produktif yang turut serta dalam usaha Noah Webster untuk menuntut perlindungan terhadap hak-hak pengarang/ penulis.

Sepanjang abad XX, hak cipta yang semula hanya meliputi barang cetak telah diperluas cakupannya menjadi foto, rekaman musik (yang tidak hanya mencakup komposisinya), piranti lunak komputer, serta karya arsitektur.

Pada tahun 1976 ditetapkan sebuah undang-undang baru yang bernama Copyright Act of 1976.Di dalam UU tersebut disebut sebuah istilah bernama "fair use" (penggunaan yang adil). Istilah ini mengacu kepada pembuatan salinan atau pengutipan karya orang lain dalam koridor kebebasan berbicara dan demi meningkatkan wacana intelektual. Menyalin karya orang lain selama tidak melebihi setengah lusin eksemplar (maksimal 6 eksemplar) tidak dianggap pelanggaran hak cipta dan hanya digolongkan sebagai penggunaan yang adil (fair use). Penggunaan yang adil juga dapat dilakukan oleh perpustakaan dan lembaga-lembaga arsip yang membuat salinan dengan tujuan untuk memperbanyak karya tersebut hingga dapat mempublikasikannya ke masyarakat umum.

Di tahun 1998, seiring dengan perkembangan teknologi dan naiknya pamor internet, Kongres AS memperbaharui perangkat hukum hak cipta dengan menerbitkan UU baru bernama "the Digital Millenium Copyright Act". Di masa kini hak cipta tidak hanya melindungi dari pelanggaran yang tampak nyata dan jelas tetapi juga usaha untuk menyalin atau usaha lain untuk membuat reproduksi/ salinan dari gaya atau penampilan secara umum dari suatu sampul majalah atau layar komputer.

PENEMU TIMES NEW ROMAN

Times New Roman, tentu banyak orang yang tahu. Jenis huruf ini digunakan sebagai standar huruf dalam dunia pengetikan. Keberadaannya dikenal luas oleh orang dari berbagai kalangan profesi. Namun, seberapa banyak di antara kita yang mengetahui sejarah penciptaan huruf jenis Times New Roman ini?

Huruf ini dirancang oleh seorang berkebangsaan Inggris bernama Stanley Morrison. Ia lahir pada tanggal 6 Mei 1889 di Wanstead, Inggris. Stanley tumbuh sebagai figur yang tidak memiliki pengetahuan tentang percetakan, namun di kemudian hari ia menempati banyak posisi penting di dunia tersebut. Pengetahuannya yang banyak dalam hal tipografi didapatkan sejak menjadi anggota percetakan The Pelican Press.

Kecintaannya pada Tuhan membuatnya banyak membaca buku-buku religius, bahkan karya tipografinya yang pertama juga ditujukan untuk gereja. Setelah keluar dari The Pelican Press, ia bekerja untuk Cloister Press di Manchester. Banyak desain-desain terbaiknya dihasilkan saat ia bekerja di perusahaan ini. Lagi-lagi, karyanya banyak mencerminkan latar belakang gereja katolik, hal ini terlihat pada ilustrasi dan berbagai macam dekorasi yang ia gunakan. Karena ia sangat membenci perang, gerakan antiperangnya membuat ia sempat dipenjara selama empat tahun (1914-1918).

Selama kurang lebih 30 tahun (1929-1960) Stanley Morrison menjadi konsultan huruf untuk koran The Times di London, Inggris. Sebagai konsultan huruf, pada tahun 1931 ia mengatakan pada Times, ”The Times merupakan koran yang telah memiliki pelanggannya sendiri, kita memerlukan sebuah huruf yang tidak sama dengan barang dagangan pada umumnya, huruf itu harus baik pada dasarnya, namun juga mencerminkan kekuatan dari garis, konsistensi, dan ekonomis bagi The Times”.
 
Karena kata-katanya itulah, 3 Oktober 1932 menjadi hari pemasaran jenis huruf “Times” ke khalayak ramai, karena pada hari itu untuk pertama kalinya koran The Times dicetak dengan menggunakan jenis huruf yang dinamai seperti koran itu sendiri. Stanley Morisson bukan satu-satunya orang yang berada di balik layar kesuksesan huruf tersebut. Ia juga dibantu temannya bernama Victor Lardent sebagai orang yang menggambar rancangan huruf ini. 

Huruf bernama Times ini dengan cepat menjadi sangat populer pada masa itu, banyak digunakan di koran, majalah, maupun buku lapor*an tahunan perusahaan. Huruf ini didaftarkan lisensinya ke The Monotype Corporation di Inggris, namun juga didaftarkan ke perusahaan lisensi Linotype di Amerika, karena koran The Times banyak mendaftarkan lisensi dari produk-produknya ke Linotype. Akhirnya, pada tahun 1945, The American Linotype Company mendaftarkan nama dagang ”Times Roman” secara terpisah, bukan sebagai bagian dari The Times ataupun Monotype. Di sinilah terjadi perbedaan nama untuk penggunaan huruf ini dalam komputer. Linotype dan perusahaan-perusahaan di bawah lisensinya seperti Adobe dan Apple Macintosh menggunakan nama ”Times Roman”, sedangkan Monotype dengan perusahaan-perusahaan di bawah lisensinya seperti Microsoft meng*gunakan nama “Times New Roman”.

Pada era ’80-an, Monotype mendesain ulang Times New Roman dan mengklaim bahwa huruf yang di desain ulang ini lebih baik daripada Times Roman yang dimiliki Linotype. Karena tidak mau kalah, pada periode waktu yang berdekatan, Adobe-Linotype juga meluncurkan seri baru dari huruf Times, yang tentu saja mereka mengklaim huruf yang baru juga lebih baik dibanding huruf milik Monotype. Pada kenyataannya, sebagian atau mungkin seluruh pengguna huruf ini tak akan menyadari atau bahkan tak akan mempermasalahkan perbedaan di antara keduanya walaupun huruf-huruf tersebut dicetak sangat jelas dengan ukuran 10 pt dalam resolusi tinggi 300 dpi.
Lepas dari berbagai pertentangan di atas, terbukti bahwa Stanley Morrison telah berhasil menciptakan huruf yang baik dengan ciri khasnya tersendiri sehingga jenis huruf ini terus dikenang dan digunakan oleh banyak kalangan hingga saat ini. Ia meninggal pada 11 Oktober 1967 di London, Inggris.

KISAH ARKHIVOP - MENCEGAH PERANG DUNIA 3

Pada Oktober 1962, dunia di ambang kehancuran, karena memanasnya hubungan AS dan Rusia berpotensi besar memicu Perang Dunia 3. Namun, pria ini berhasil menghentikannya.

Sebuah dokumenter yang dipublikasikan pada Selasa (25/9/2012) ini menyatakan, tindakan seorang pria menyelamatkan bumi dari perang nuklir. Ia adalah Vasili Arkhipov, awak kapal selam Rusia, yang meski jadi pahlawan tapi meninggal dunia dipermalukan dan diasingkan.

Kisahnya dimulai pada 1960-an, di tengah kekhawatiran Perang Dingin, saat hubungan Washington dan Moskow benar-benar rusak. Di Amerika, rakyat mulai mengumpulkan ransum dan membangun bunker antibom di kebun mereka.

Ketegangan meningkat karena terjadi revolusi di Kuba. Rusia pun memiliki sekutu komunis yang bisa membantu menggempur Amerika. Rudal-rudal ki Kuba sudah diarahkan ke Amerika, meratakan Washington dan New York dalam waktu 10 menit.
Satu-satunya hal yang menghentikan mereka dari saling serang ketika itu adalah kebijakan yang menyatakan serangan boleh dilakukan jika satu pihak terbukti merusak teritori pihak lainnya.

Satu torpedo saja diluncurkan, maka lainnya akan membalas dengan hal yang sama. Tentunya, hal ini akan memicu serangan-serangan yang amat menghancurkan. Apalagi melibatkan nuklir, umat manusia bisa saja punah ketika itu.

“Semua pihak mengantungi nuklir. Satu saja serangan, perang nuklir terjadi,” ujar Direktur Arsip Keamanan Nasional AS, Thomas Blanton.

Di tengah atmosfer saling curiga dan takut ini, empat kapal selam Rusia diam-diam diberangkatkan dari Rusia. Hanya pejabat penting di kapal selam saja yang tahu mereka membawa torpedo berhulu ledak nuklir.

Kekuatannya besar, setara bom atom Amerika yang dijatuhkan ke Kota Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 lalu. Kapal selam ini berangkat menuju Kuba. Mereka dikawal helikopter, jet tempur dan kapal perang.

Amerika pun memburu mereka, bak permainan tikus dan kucing. Tak lama, Amerika menemukan kapal-kapal selam itu. Kapal selam yang ditumpangi Arkhipov, B59, ikut terpaksa menyelam, bersembunyi dari pantauan Amerika.

Saat itulah kondisi memburuk karena mereka harus bertahan di bawah air selama sepekan, dalam suhu dan kelembaban tinggi, serta air minum yang dibatasi satu gelas per hari. Di atas permukaan, Amerika memang sengaja menanti kapal-kapal selam ini menyerah.

Tak ada yang tahu, kapal selam itu membawa senjata maut. Amerika terus menunggu awak kapal selam yang kepanasan dan kehausan, menyerah. Tak sabar, Amerika menjatuhkan granat peringatan ke laut, yang oleh Rusia disangka serangan.
Valentin Savitsky, kapten B59, yakin perang nuklir sudah dimulai. Ia memerintahkan peluncuran torpedo nuklir untuk menyelamatkan kehormatan Rusia. Dalam kondisi normal, sudah pasti perintah ini segera dijalankan dan kedua negara bakal berperang.
Namun, Savitsky tak memperhitungkan Arkhipov, yang memiliki hak veto penggunaan torpedo nuklir. Arkhipov bersikeras mereka tak boleh menembakkan senjata itu dan harus menyerah kepada Amerika.

Langkah memalukan bagi Rusia, namun menyelamatkan seluruh dunia. Begitu muncul di permukaan, kapal-kapal selam itu hanya disuruh pulang ke Rusia. Arkhipov yang tak sadar dirinya pahlawan dunia, dipermalukan di negaranya.

Bertahun-tahun kemudian baru apa yang sebenarnya terjadi di dalam B59 diketahui publik. Sayang, saat itu Arkhipov sudah meninggal dunia. Bagi Olga, jandanya, Arkhipov adalah seorang pahlawan.

“Dari kapal selamnya, ia mencegah pecahnya perang nuklir. Saat itu saya bangga, dan saya akan selalu bangga dengan suami saya,” ujarnya. Kisah Arkhipov akan ditayangkan dalam dokumenter bertajukThe Man Who Stopped World War III: Revealed.

Sabtu, 10 Agustus 2013

MISTERI GUNUNG LIPAN

Gunung Lipan, tentu terasa aneh dan merasa heran, karena pada umumnya para pendaki dan petualang tak pernah mendengar nama itu. Memang, gunung Lipan hanya banyak di ketahui oleh yang mempunyai usia lebih dari 70 tahun keatas, bagi generasi setelahnya, tentu asing. Hanya tersisa cerita saja tentang lokasi gunung Lipan, hutan Bambangan dan tentang asal nama gunung Lipan tersebut. Dan inilah beberapa kisah misteri gunung Lipan.

Jika kamu akan melakukan perjalanan Samarinda - Balikpapan, maka kamu pasti melewati Gunung Lipan, tepatnya di pinggir Sungai Mahakam dan terdapat restoran Lipan Hills disana, dengan tanjakan yang berkelok - kelok.

Tapi tahukah bahwa Gunung Lipan sebenarnya adalah sebuah perkampungan para makhluk halus yang kebanyakan bertubuh kerdil, dan pada celah gunung terdapat sebuah air terjun yang menurut cerita sangat segar jika di minum dan dimandikan pada tubuh. Dan sesekali kita juga dapat menjumpai binatang dengan sebutan Lipan dengan ukuran 50 cm dan lebar tubuhnya hampir sama dengan daun kelapa. 

Seperti yang diceritakan Pak Imbran seorang warga asli daerah Gunung Lipan yang saat ini telah menjadi perkampungan ramai penduduk. Menurut ceritanya, kala itu ia sedang pergi ke hutan mencari rotan, dan ketika melewati air terjun, entah dari mana asalnya, ia melihat seorang putri yang sedang terbang dan turun perlahan disebuah batu dekat air terjun tersebut.

Kemudian sang putri pun melepas selendang dan baju luarnya yang berwarna hijau gemerlap, kemudian sang putri pun mandi diair terjun tersebut. Tapi, disisi lain, ternyata selendang dan baju luar sang putri tadi, dijaga oleh puluhan lipan dengan ukuran cukup besar dan berwarna cokelat kehitam - hitaman. “Saya ingat hari itu hari Kamis dan waktu itu hujan gerimis, saya berteduh dibawah pohon bambu. “ ungkap Pak Imbran yang kini tinggal di Loa Hui kampung Harapan Baru Kelurahan Loa Janan Ilir.

Tidak hanya Lipan saja ternyata yang menghuni daerah tersebut, menurut cerita disana juga terdapat para makhluk gaib yang bertubuh kerdil dan sering berkeliaran, termasuk kerap berbaur dengan warga asli setempat.

Dan biasanya jika keberadaan mereka diketahui, maka makhluk gaib tersebut cepat sekali menghilang dan memasuki hutan dan tak pernah ada yang melihat lagi. Masyarakat yang pernah bertemu orang orang gaib tersebut, biasanya berasal dari perkampungan yang ada dihutan gunung Bambangan, tak begitu jauh dari Gunung Lipan.

Kehidupan makhluk gaib tersebut juga ternyata tak jauh beda dengan manusia, menurut sejumlah pengakuan, bahwa sang makhluk gaib juga berkeluarga ada suami, istri dan anak - anak. Makhluk tersebut terkadang tak tahan terlalu lama berbaur dengan manusia, dan mereka kerap kepanasan, apalagi dirumah manusai terdapat kitab suci Al-quran.

Tetapi pada dasarnya mereka tak pernah menggangu, bahkan mereka sering memberi bermacam - macam hadiah. Jika mereka memberi kita batu, maka batu itu bisa menjadi batu berharga seperti berlian, begitu pula jika mereka memberi buah atau kunyit. Buah atau kunyit ini bisa menjadi gumpalan emas murni.

Dulu ada beberapa anggota masyarakat yang mencoba memasuki kawasan gunung Bambangan, namun apapun yang mereka dilakukan tak pernah berhasil menemui orang orang kerdil dan gaib tersebut. Dan pertemuan bisa saja terjadi, jika orang - orang gaib tersebut menghendaki.

Almarhum Haji Umbah Ramli, seorang Kepala Kampung Harapan Baru pernah menceritakan pengalaman gaibnya. Haji Umbah mengatakan bahwa suatu hari ia pernah diundang pada acara pernikahan oleh satu keluarga di Gunung Lipan.

Undangan tersebut agak terkesan mendadak, soalnya ketika ia baru saja pulang dari Kota Samarinda, ditengah jalan ia dicegat atau dihadang dan langsung digiring menuju upacara pesta perkawinan. Sebagai seorang Kepala Kampung, tentunya Haji Umbah mengenal seluruh warga kampungnya.

Tapi kenapa pada saat itu, ia yang semula belum pernah melihat atau mengenal orang yang mengundangnya, tiba - tiba saja ia merasa seperti sudah akrab dan kenal lama dengan keluarga sang pengundang tersebut. Usai pesta tersebut, Haji Umbah kemudian diantar pulang, sampai dipinggir jalan besar yang menuju rumah haji Umbah tersebut.

Sesampainya dirumah lanjut Haji Umbah, ia baru tersadar dengan peristiwa yang baru saja ia alami. Dengan rasa penasaran tinggi, ia membawa beberapa warganya untuk kembali ketempat pesta perkawinan tersebut. Namun sayang, ketika mereka sampai ditempat dimana menurut Haji Umbah diantar oleh tuan rumah pesta yakni dipinggir jalan besar tersebut, kini Haji Umbah tak tahu dimana jalan besar dan jalan kecil yang tak jauh dari rumahnya.

Mereka hanya disuguhi pemandangan berupa hutan dan semak belukar, dan anehnya lagi, Haji Umbah dan beberapa warganya mencium harumnya aroma masakan disekeliling mereka. Setelah beberapa detik menimamti aroma tersebut, mereka dikagetkan dengan datangnya puluhan bahkan ratusan lipan dengan ukuran lumayan besar dan mengelilingi mereka. Dengan perasaan aneh bercampur takut, akhirnya Haji Umbah dan lainnya memutuskan untuk pergi dan pulang ke rumah masing - masing.

Samarinda Kota maupun Samarinda Seberang dulunya banyak cerita atau kisah - kisah misteri dan banyak terdapat daerah angker, tapi hingga kini misteri tersebut tak pernah terpecahkan keberadaannya. Adapun cerita nyata dan hal gaib yang banyak dialami warga, yakni Gunung Permandian yang telah banyak memakan korban, hingga muncul cerita adanya roh - roh gentayangan anak - anak Belanda yang dulunya terkubur disana.

Masih banyak lagi cerita atau hal - hal mistis lainnya mengenai sejarah Gunung Lipan atau lainnya di Samarinda ini. Namun seolah tak dihiraukan lagi dan pesatnya kehidupan umat manusia, sehingga misteri dan sejarah terjadinya Gunung Lipan dan lainnya hanya tinggal kenangan dan tak banyak yang dapat menceriatakan kembali secara terperinci mengenai sejarah tersebut.

Padahal dulu, setiap setahun sekali diadakan Pelas Kampung dengan memberikan sesaji, untuk mereka yang tak terlihat. Tujuannya adalah agar manusia biasa yang tinggal ditempat tersebut tidak diganggu oleh mahluk - mahluk gaib yang juga tinggal disana. Walau demikian, sepatutnyalah para generasi muda untuk lebih mengenal dan memahami sejarah tentang asal - usul tempat atau pun nama tempat yang ada daerahnya, sama halnya dengan “Gunung Lipan”.
 
Copyright © 2013 DAYAK NEWS
Design by FBTemplates | BTT